Suruh Jadi Petinju

tinjuTawuran alias cakak banyak masih mewarnai hingar-bingar kehidupan pelajar di Indonesia. Tidak terkecuali di Padang atau daerah lain di Sumatra Barat. Tawuran ini seperti menjadi budaya.

Usia para pelajar memang tergolong muda, rapuh dan emosional. Ibarat tanaman, seperti tunas yang tengah tumbuh. Kalau tidak awas, tunas itu bakal layuh sebelum berkembang. Tidak menjadi sebelum tumbuh, mati di tengah jalan.

Sudah jelas, akibat pelajar yang cakak banyak ini menimbulkan dampak yang tidak baik. Bagi mereka sendiri, tawuran semakin memperburuk masalah. Hari ini tawuran, esok lusanya tentu ada lagi balas dendam. Sehingga persoalan tidak pernah selesai. Kalaupun sampai ke polisi, itu tidak mengurangi niat mereka untuk berkelahi. Tidak memundurkan atau menciutkan nyali.

Ancaman diusir dari sekolah dianggap angin lalu. Diberhentikan dari sekolah, bagi mereka tidak masalah. Mungkin perkiraan mereka, masih ada sejumlah sekolah yang mau menampung. Adanya yang jatuh korban atau tewas, justru membuat mereka semakin beringas.

Mereka juga tidak paham dengan tawuran bisa merusak faslitas umum. Halte jadi sasaran, ruang bermain atau tempat terbuka jadi ajang ‘perang’. Seperti di RTH Imam Bonjol yang kerap dijadikan medan perang. Banyak warga menjadi terganggu akibat pelajar kerap tawuran.

Dampak paling parah dari tawuran itu adalah semakin berkurang atau menipisnya rasa solidaritas, saling menghargai, tenggang rasa dengan sesama. Mereka beranggapan, menyelesaikan persoalan dengan adu fisik merupakan langkah paling mudah. Katanya ini baru laki.

Padahal tidak segampang itu. Adu fisik tidak menyelesaikan persoalan dengan bijak. Tidak ada persoalan selesai jika memakai otot. Ingat, Indonesia merebut kemerdekaan melalui upaya diplomasi.

Sekolah sebaiknya memikirkan jalan keluar bagi anak-anak tersebut. Sayang jika jiwa muda penuh emosi dan rapuh itu terbuang sia-sia hanya karena tawuran.

Olahraga bisa menjadi salah satu solusi meredam tawuran. Ajak anak-anak yang punya bakat atau kemampuan berkelahi untuk berlatih tinju. Olahraga beladiri lain pun juga boleh. Siapa tahu dari tunas-tunas muda ini ada beberapa yang punya bakat menjadi petinju atau atlet beladiri.

Mereka berlatih, sehingga tidak ada lagi rasa benci atau dendam dengan rekan sesama pelajar lainnya. Latihan olahraga yang mereka dapat, semata-mata untuk melatih mereka menjadi pemuda yang sehat dan memiliki fisik yang prima.

Dari olahraga mereka bisa mengarungi hidup. Bisa saja menjadi atlet ternama, menjadi juara nasional bahkan juara dunia seperti Chris John.

Pengurus cabang olahraga juga sebaiknya menjalin kerja sama dengan pihak sekolah memberikan pelatihan olahraga.

Kalau saja ini terlaksana, yakinlah tawuran bisa berkurang. Mereka tidak lagi berperang di RTH Imam Bonjol, GOR  Agus Salim dan lainnya. Tapi mereka berjuang menunjukkan bakat dan kemampuan di arena atau gelanggang.

Sehingga ke depan, tidak ada lagi pelajar kedapatan di dalam tasnya berisi samurai, ladiang, pisau atau balok kayu. Tapi, yang mereka bawa itu adalah sarung tinju, baju, sabuk untuk dipakai berolahraga.(*)

0 Responses to “Suruh Jadi Petinju”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Tangkelek

Maret 2013
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Masukkan alamat email Anda

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya

Bagian

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

Harian Singgalang

tweet saya


%d blogger menyukai ini: