Masa Depan Indonesia

Penyisihan Piala Asia U-22 di Stadion Riau membuka mata kita terhadap generasi muda potensial masa depan sepakbola tanah air. Mereka membuktikan memiliki bakat di masa mendatang.

Ada beberapa nama pemain muda yang bagus. Sebut saja seperti Rasyid Irsad pemain PSM Makassar. Ada Andik Vermansayh, Hendra Bayaw, Kurniawan, Bima Ragil, Agung Supariyanto dan sederet nama lainnya.

Walau muda, mereka memperagakan penampilan luar biasa. Tidak takut menghadapi tim besar seperti Asutralia meski kalah tipis 1-0. Sebenarnya jika bermain lebih tenang, bukan mustahil Indonesia menang. Sebab, banyak peluang terbuang percuma karena terlalu individu.

Saat bertemu Timor Leste mulai terlihat kekompakan bermain. Menguasai jalannya pertandingan dan menebarkan ancaman. Berkali-kali pertanana Timor Leste diobrak-abrik. Hasilnya 2-0 membungkam negara pecahan Indonesia itu.

Saat menghadapi Macau lebih luar biasa lagi. Bermain hanya separuh lapangan. Macau dibuat hanya bisa mengandalkan serangan balik saja. Permainan tidak monoton dan memperlihatkan kengototan untuk menang. Umpan-umpan pendek layaknya timna Spanyol. Koordinasi antar lini terjaga.

Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah penyempurnaan penyelesaian. Masih nampak kurang tenangnya lini depan menyelesaikan peluang di lini pertahanan lawan. Masing-masing pemain masih menyimpan sikap individu tidak mau berbagi.

Kalau saja hal ini di buang jauh-jauh, bukan tidak mungkin, Indonesia bisa mengalahkan lawan-lawannya termasuk Jepang. Andik masih terlihat egois dalam menyupor lini depan. Ia terkadang lebih suka melewati lawan lalu mengesksekusinya sendiri. Padahal ada kawan yang berdiri bebas.

Lalu Hendra Bayaw masih perlu diperbaiki kualitas umpan-umpannya. Hendra terkadang terburu-terburu melepaskan umpan sehingga mudah terbaca pemain lawan.

Yang lebih penting lagi, konsentrasi di lini belakang. Saat melawan Macau, pemain belakang Indonesia terlena. Saat serangan balik, mereka ketetaran mengatasinya. Lihat saja saat melawan Macau.

Satu-satunya gol dari Macau tercipta melalui proses serangan balik. Terlalu asyik menekan, lupa pertahanan. Melalui skema serangan balik, Macau mencuri gol. Waktu golnya Australia juga disebabkan lengahnya lini belakang menjaga.

Ini PR bagi Aji Santoso dan Widodo C. Putro untuk mengantisipasinya. Memperbaiki kelemahan-kelemahan utnuk berbuat lebih baik lagi.

Skuad sekarang ini memang bukan yang terbaik. Masih ada sederet nama lain yang berpotensi untuk ikut. Hanya sayang, konflik antara PSSI dan KPSI menyebabkannya terpecah. KPSI meminta klub ISL untuk tidak mengirim pemainnya ke timnas.

Sudahlah. Konflik di tubuh pengelola sepakbola tanah air seperti tidak sudah-sudah saja. Sayang tim nasional menjadi korban. Padahal yang mereka bela bukanlah klub tapi Indonesia Raya ini.

Maju terus para pemain bangsa. Anak muda yang memiliki semangat keberanian dan nasionalisme. Semoga saja konflik berakhir dan Indonesia memiliki timnas yang lebih tangguh lagi. (*)

 

 

0 Responses to “Masa Depan Indonesia”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Tangkelek

Maret 2013
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Masukkan alamat email Anda

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya

Bagian

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

Harian Singgalang

tweet saya


%d blogger menyukai ini: