Dibadia Pun, Kami Tetap Bertahan

AGAM – “Dibadia-dibadia bagailah. Kami siap bertahan di siko (ditembak pun, kami siap bertahan di sini),” kata Sutan Maruhun, saat ditemui di ladang tebunya di Padang Kubuak, Kenagarian Matur Mudiak, Agam, Jumat (4/3).

Menjadi peladang bagi Sutan Maruhun merupakan pilihan hidup. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan dalam menghidupi perekonomian rumah tangga selain berladang tebu.

Banyak usaha yang telah dijalani sebelum berladang. Pernah pula merantau, tapi tidak hasil. akhirnya pilihan pun jatuh untuk berladang tebu.

“Dulu ini semak belukar dan banyak pohon pinus, tidak terawat sama sekali,” katanya sambil menunjuk ladang tebu miliknya.

Sekitar tahun 2000, ia memulai merambah semak belukar di perbuki­tan untuk ditanami tebu. Jatuh bangun ia menggarap tanah terse­but. Dengan kegigihannya mengolah tanah menganggur itu, mulai tebu itu memberi hasil yang sedikit membantu.

“Lumayan, bisa menyekolahkan anak dan makan sehari-hari,” katanya. Satu batang tebu ia jual Rp1.500. Banyak orang yang membeli tebu kepadanya.

Melihat hasil yang didapat dari tebu, satu-persatu masyarakat di Padang Kubuak memngikuti jejaknya. Tercatat hingga sekarang sudah 150 kepala keluarga yang bergabung dalam kelompok tani peladang tebu.

Masing-masing KK mendapatkan jatah setengah hektare tanah untuk digarap menjadi ladang tebu. Hasil dari garapan itulah yang dinikmati masing-masing peladang.

“Bahkan ada dari kami yang sudah membiayai anaknya kuliah di perguruan tinggi,” tutur Sutan Maruhun didamping Z Endah Marajo.

Dulu cerita Z Endah Marajo, dulu zaman kolonial, perbukitan itu ditanami kopi. Belanda menyuruh warga pribumi untuk menanam kopi termasuk kaumnya dulu.

Setelah Belanda angkat kaki, di zaman Soeharto berubah lagi kebijaksanaan. Pada tahun 1965 sampai 1975, masyarakat disuruh menanam pinus.

“Lihat saja masih banyak sisa-sisa batang pinus di perbukitan. Itu yang kami tanam dulu,” kata Z Endah Marajo.

Masyarakat dipaksa menanam pinus. Kalau tidak mau, mereka ditang­kap dan menjalani hukuman. Bukan main sedihnya dulu. Masyarakat yang tidak mau menuruti perintah itu kemudian lari meninggalkan kampung halaman.

“Daripada kami dihukum, lebih baik lari. Ada yang ke Bukittinggi, Padang dan lainnya untuk menghindari sanksi,” kata Z Endah Mara­jo.

Merasa sudah tidak ada lagi yang menjadi ancaman ditambah susahn­ya hidup di perantauan, banyak yang kembali lagi ke kampung memulai hidup baru. Mulailah masyarakat menanam tebu.

Usaha yang dilakukan masyarakt itu bukan tanpa halangan. Cerita Sutan Maruhun, ia berkali-kali dipanggil anggota dewan untuk menjelaskannya. Alasannya, tanah garapan Sutan Maruhun dan lainnya itu termasuk hutan lindung.

“Tiga kali saya dipanggil. Tiga kali pula saya jelaskan kepada anggota dewan kalau tanah itu bukan hutan lindung,” katanya.

Tanah itu bukan hutan lindung. Alasannya, karena tanah itu sudah puluhan tahun digarap sejak zaman Belanda sampai sekarang. Bahkan pemerintah membangun jalan menuju objek wisata menuju PuncakLawang.

“Kalau itu hutan lindung, tentu pemerintah tidak membangun jalan ini,” kata Sutan Maruhun. Anggota dewan pun sudah ada yang datang langsung melihat ladang tebu itu. Kata anggota dewan waktu itu, ladang itu tidak berada di hutan lindung.

Lagipula, dengan menanam tebu dan membersihkan semak belukar, juga mengurangi perbuatan maksiat. Sebab, sebelum semak belukar dibersihkan, banyak anak muda memanfaatkannya untuk berbuat maksiat.

“Sudah lima pasang anak muda yang kami amankan karena berbuat yang tidak-tidak. Sesuai dengan kesepakatan nagari, mereka kami nikahkan dan dipanggil orangtuanya untuk datang,” katanya lagi.

Sampai sekarang tidak ada lagi yang mempersoalkan tanah garapan itu. Kendati demikian, mereka butuh kejelasan secara otentik. Jangan sampai nasib seperti tebu, habis manis sepah dibuang.(Eriandi)

0 Responses to “Dibadia Pun, Kami Tetap Bertahan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Tangkelek

Maret 2011
S S R K J S M
« Jan   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Masukkan alamat email Anda

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya

Bagian

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

Harian Singgalang

tweet saya


%d blogger menyukai ini: