Impor Pupuk

Akhirnya keran impor pupuk (urea) diumumkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (11/2). Inilah jalan keluar terakhir mengatasi kesulitan pupuk di negeri agraris ini. Kelangkaan pupuk sudah bertahun-tahun terjadi. Kalaupun ada, harga pupuk mahal dan sulit didapat. Dampaknya kalau hasil panen anjlok, petanilah menjadi menjadi sasaran kesalahan.
Kini pemerintah memutuskan mengimpor pupuk urea 500 ribu ton  sebagai cadangan stok tahun 2009. Bahkan pemerintah telah menyiapkan anggaran sebanyak Rp17 triliun di tahun 2009 ini untuk mengatasi persoalan pupuk.
Alasan pemerintah membuka keran impor pupuk, untuk menjamin ketersediaan pupuk urea bagi petani. Pemerintah menyadari, pasokan gas semakin berkurang. Usia pabrik sudah semakin tua. Kondisi itu tentu saja berdampak terhadap jumlah pupuk yang dihasilkan.
Tetapi apakah dengan impor ini kelangkaan pupuk akan teratasi?
Pupuk, begitu penting bagi petani. Tidak ada pupuk, tidak akan ada tanaman yang tumbuh subur. Tidak ada tanaman tumbuh subur, maka, tak ada beras. Tak ada beras tidak bisa makanlah orang banyak ini.
Kelangkaan pupuk, sejak dulu selalu menjadi persoalan bagi petani. Nyanyian lama yang tidak kunjung berhenti. Berputar terus tiada selesai. Benar-benar kusut kalau bicara soal pupuk. Petani menjerit, persoalan yang dihadapi selalu mereka sampaikan kepada pemerintah. Berharap pupuk sampai ke tangan.
Namun, sejauh ini, belum ada hal yang bisa dilakukan. Pupuk tetap jadi barang langka. Kalaupun ada harganya jauh dari harga yang sudah ditetapkan pemerintah. Tapi petani bisa berbuat apa? Meski sulit dan harganya mahal, pupuk tetap diperlukan. Akibat terjadi
besar pasak daripada tiang. Besar pengeluaran dari pendapatan. Tapi apadaya petani. Menanam tetap harus dilanjutkan. Biarpun pupuk mahal, dikeras-keraskan hati untuk mencukupi ekonomi keluarga.
Padahal di Indonesia ini ada sejumlah pabrik pabrik besar memproduksi pupuk. Sebut saja seperti PT Pupuk Sriwijaya, Petrokimia Gresik, Pupuk Kujang, dan Pupuk Kaltim. Berton-ton pupuk mereka hasilkan. Namun, anehnya, pupuk tetap sulit juga. Apalagi pada saat masa tanam.
Di Sumatra Barat, sejumlah petani mengeluhkan hal yang sama. Mungkin kalau didata, para petani di Indonesia ini mengaku hal yang sama yakni pupuk sulit didapat.
Kelangkaan ini sampai ke pelosok-pelosok nagari dan jorong. Bertemu dengan petani, nyanyian yang sama didendangkan. Berbagai langkah dilakukan mengatasi kelangkaan pupuk ini. Seperti dengan memberi kuota per daerah untuk para distributor pupuk. Petani didata, lalu pupuk disalurkan. Kalau ada pupuk dibawa ke daerah lain, tentu ditangkap. Sanksi terhadap distributor nakal izinnya dicabut.
Tetapi, bukannya takut, distributor nakal ini seperti menantang hukum. Kucing-kucingan mereka membawa pupuk ke daerah lain dengan harapan bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi. Banyak kasus seperti ini terjadi. Bahkan ada yang mencampur pupuk bersubssidi dengan yang non subsidi. Lalu dijual kepada masyarakat dengan harga non subsidi.
Anjuran pemerintah untuk menggunakan pupuk kompos perlu dipertimbangkan. Dulu petani juga tidak mengenal urea, NPK atau lainnya. Pupuk didapat dari lingkungan. Ada kotoran hewan ternak dijadikan pupuk kandang. Selain menghemat biaya juga efesinsi.

0 Responses to “Impor Pupuk”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Tangkelek

Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Masukkan alamat email Anda

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya

Bagian

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

Harian Singgalang

tweet saya


%d blogger menyukai ini: