Wisata ke Rumah Sakit

Wahai para pembalap jalanan, bacalah tulisan ini. Menurut penelitian ahli konstruksi jalan, ternyata aspal itu keras. Tidak pernah lunak walau sekalipun. Baik itu hujan maupun sedang panas terik. Aspal itu keras, pagi, siang, sore atau malam hari. Lalu kenapa pembalap kelas dunia akhirat masih saja ada?
Polda Sumatra Barat baru-baru ini melansir, angka kecelakaan lalulintas setiap tahunnya terus meningkat. Jumlah kecelakaan lalu lintas hingga November 2008, tercatat 3.384 kasus. Sebanyak 2.185 di antaranya melibatkan sepeda motor. Jumlah korban tewas 626 orang, luka berat 841 orang dan luka ringan 1.999 orang. Usia rata-rata pengendara yang kecelakaan itu antara usia 16 tahun hingga 20 tahun. Ini menandakan, setiap hari, hampir dua  nyawa melayang karena kecelakaan lalulintas.
Penyebabnya, karena pengendara sepeda motor itu ugal-ugalan dan tidak mematuhi peraturan lalulintas.
Tingginya angka kecelakaan di Sumbar ini, tidak juga membuat para pembalap jalanan ini sadar akan pentingnya keselamatan lalulintas. Nyawa hanya ada satu. Kalaulah dua diberikan Tuhan, tidak apa-apalah, pacu benarlah kendaraan kencang-kencang. Kalau bisa secepat petus, alis petir.
Soal kencang-kencang ini memang menjadi tolak ukur harga diri bagi anak muda yang berdarah panas. Mereka kalau sudah berkumpul, sering menceritakan kehebatan memacu kendaraan. Pantang mau kalah kalau bercerita. Awak ke Bukittinggi hanya tiga jam. Lihat awak, hanya dua jam.
Memacu roda dua secepat petus seperti menimbulkan nikmat sendiri bagi mereka. Tidak peduli pengguna jalan yang lain. Yang penting, kendaraan dipacu kencang. Padahal malaikat maut sudah mengintai dari jarak yang sangat dekat.
Kalau ada keperluan yang sangat penting tidak apalah memacu kendaraan kencang-kencang. Ini tidak, mereka bangga kalau sepeda motornya kencang dari kendaraan lain. Mereka bangga kalau knalpot bersuara memekakkan telinga menyemarakkan hingar bingar jalan raya.
Modifikasi sepeda motor menjadi menu penting bagi mereka. Tongkrongan sepeda motor yang garang menjadi pilihan, ditunjang dengan mengganti beberapa suku cadang agar performa sepeda motor lebih meningkat dibanding yang lain. Pokoknya mantap.
Uang dibuang untuk hobi yang satu ini. Kalaulah bikin cantik dan selamat tidak apa-apa. Ini malah merusakkan penampilan sepeda motor. Lampu dicopot, knalpot diganti, mesin ditukar. Jika tahu orang Jepang sana, mungkin mereka marah-marah, payah-payah saja merekas menggaji insinyur mahal-mahal. Sudahlah bagus dibuat, di Indonesia malah diganti macam-macam.
Memang polisi kerap melakukan razia. Setiap ruas jalan yang dijadikan sirkuit selalu didatangi. Bahkan, di setiap lampu merah ada polisi lalulintasnya di samping ada yang selalu patroli.
Namun, pembalap jalanan ini tidak mengenal takut. Semakin dilarang makin menjadi. Bahkan kadang-kadang, polisi ditantang berpacu.
Jika dikaji-kaji, perusahaan pembuat sepeda motor juga ikut bertanggungjawab. Mereka kerap melakukan inovasi menghadirkan sepeda motor yang kapasitas mesinnya besar. Kalau sudah besar, tentu sepeda motor itu kencang. Sepeda motor yang kapasitasnya  kecil, jarang diproduksi.
Orangtua bahkan secara tidak langsung mendukung anaknya menjadi pembalap jalanan. Mereka tidak melarang anaknya punya sepeda motor dengan mesin besar. Mereka juga tidak pernah melarang anaknya memodifikasi sepeda motor.
Ada shock terapi yang sebaiknya dipertimbangkan orangtua dan guru. Sekali-kali mereka mengajak anak-anak mereka berwisata. Wisata tidak di objek wisata yang menyajikan panorama yang indah. Namun ke tempat yang membuat mereka menjadi trauma tidak lgi-kebut-kebutan. Tempat wisata itu ialah rumah sakit.
Di rumah sakit itulah bisa dilihat bagaimana rasanya menjadi pasien setelah kecelakaan. Pasien meraung-raung kesakitan dengan kaki patah, tangan bengkok, kepala robek dan badan penat-penat bisa dijumpai di sana. Sepulang dari sana Insya Allah akan terjadi perubahan dari perilaku mengendarai sepeda motor.
Kita perlu mendukung langkah Polri yang berencana memasukkan keselamatan berlalulintas ke dalam kurikulum sekolah. Anaka-anak diberikan pengetahuan akan pentingnya berlalulintas.
Ini dimaksudkan, menanamkan dari usia dini keselamatan berlalulintas. Diharapkan, setelah memperoleh pelajaran tersebut, mereka tidak lagi menjadikan jalan raya sebagai sirkuit balapan.

1 Response to “Wisata ke Rumah Sakit”


  1. 1 edijarot Januari 24, 2009 pukul 7:58 am

    waw….mantap bana.Berkarya terus dan pantang mundur…..trim


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Tangkelek

Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Masukkan alamat email Anda

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya

Bagian

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

Harian Singgalang

tweet saya


%d blogger menyukai ini: