Palestina yang Merana

Renungkanlah apa yang terjadi di Palestina itu. Secara kasat mata, kita melihat kekejaman negara Yahudi Israel membantai warga Palestina. Yang ada di benak bangsa Yahudi itu hanya membunuh dan membantai. Sehingga tidak punya lagi rasa kemanusiaan sedikitpun.

Orangtua, wanita, anak balita pun tidak luput dari peluru tajam dan bombardir mereka. Isak tangis dan bau amis darah membanjiri tanah Palestina. Kekejaman seperti itu sudah beraratus-ratus kali dilakukan. Tidak terhitung lagi nyawa melayang. Orangtua kehilangan anak, anak kehilangan orangtua. Sanak sudah tidak ada lagi, tewas idtembak tentara Israel.

Lalu dimanakah Islam? Islam sudah tidak seperti dulu lagi. Sejak kapitalis meracuni dunia, kemewahan diagung-agungkan, Islam sudah terjerembab ke dalam jurang paling dalam. Nabi Muhammad mungkin menangis, bila mengetahui umatnya seperti ini. Tidak berdaya, hidup di bawah ketiak Amerika.

Islam yang dulunya bersaudara sudah tampak lagi. Mereka masing-masing berdiri di sampan masing-masing. Tidak punya arah dan tujuan, selain untuk dirinya sendiri.

Palestina itu saudara kita. Suadara seiman. Bangsa arab yang ada di di sana bertindak seperti penonton melihat saudaranya menangis dan dibantai.

Mereka lebih cinta kepada sepakbola daripada Palestina. Berlomba-lomba mengejar kemewahan, tapi melupakan suadaranya yang ada di sisi sebelah nan tidak jauh letaknya.

Allah benci dengan kita. Benci dengan tindakan yang bertindak sebagai penonton.

Jangan salahkan Israel dan Amerika. Mereka berhasil menjinakkan Islam. Menjinakkan harga diri kita yang entah kemana disembunyikan.

Bubarkan saja PBB. Atau bangsa Islam menarik diri dari persekutuan yang melemahkan posisi Islam. Buat kekuatan baru di dunia. Kita bisa melakukan itu mengapa tidak. Penduduk muslim di nuia ini paling banyak. Mengapa kita cemas atau khawatir kalau dikucilkan. Justru mereka takut kalau Islam itu bersatu padu. Yakinlah, banyak pejuang Islam yang ingin berjihad di jalan Allah.

Percuma berharap kepada PBB untuk menindak Israel. Percuma. Mentah di tengah jalan sudah pasti. Amerika yang jadi beking.

2 Responses to “Palestina yang Merana”


  1. 1 uvi07 Januari 5, 2009 pukul 10:18 am

    Bismillah, Yaa Allah berilah ksabaran bagi mereka yang masih hidup dan sedang menderita dan balaslah mereka yang tlah menghadap ke hadratMu…

    t’untuk sodara di Bumi Palestin…

  2. 2 BHUGAN Februari 7, 2009 pukul 11:26 am

    saya masih suka dugem mas.. saya juga masih suka urakan!!
    tapi kalo harus berjuang dan mati untuk agama dan saudara saya saya mau!!
    saya mau bantai mereka yang bantai saudara saya dengan kejih!!
    lihat saja nanti!! saya pasti ikut berjuang untuk islam!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Tangkelek

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Masukkan alamat email Anda

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya

Bagian

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

Harian Singgalang

tweet saya


%d blogger menyukai ini: