Polisi Dikeroyok, Wartawan Ditodong Senpi

PADANG—Tidak pernah terbayangkan oleh Rian Taufik  kameramen ANTV ini sebelumnya. Rencana meliput berita di markas Kompi Bantuan C Batalyon 133 Yudha Sakti berakhir dengan pengusiran di bawah ancaman senjraerata api milik oknum TNI, Senin (22/12) malam.
Karena takut, rencana meliput dugaan kasus pengeroyokan 20 oknum TNI terhadap anggota Polri dari satuan lalulintas Polda Sumbar ini urung dilaksanakan. Bahkan, ia dilempari batu sebesar tinju oleh oknum TNI tersebut.
Tidak hanya Rian saja, Tomi kameramen RCTI dan Budi Sunandar kameramen Global TV ikut jadi sasaran. Batu melayang mengenai mereka. Ketiganya pun mengalami luka memar di sekujur tubuh akibat lemparan batu tersebut.
Tidak terima dengan perlakuan oknum TNI tersebut, ketiganya kemudian melaporkan peristiwa memalukan itu ke Denpom I/4 Padang. Ketiganya lalu menjalani pemeriksaan dan dimintai visumnya oleh penyidik.
Esoknya, Selasa (23/12) puluhan wartawan yang tergabung dalam Aksi Wartawan Anti Kekerasan (AWAK) melakukan unjuk rasa di depan Makorem 032/ Wirabraja. Mereka menuntut Danrem untuk menuntut tuntas kasus penyerangan terhadap wartawan dan menindak tegas anggotanya yang terlibat.
Usai berdemonstrasi di depan Makorem,  mereka lalu melanjutkan longmarch menuju kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Sumatra Barat di Jalan Bagindo Aziz Chan, Padang  untuk melaporkan kasus tersebut.
Aksi unjuk rasa yang dilakukan wartawan itu mendapat dukungan dari sejumlah mahasiswa yang ikut hadir. Para mahasiswa  dari berbagai universitas itu prihatin dengan kekerasan yang dilakukan oknum TNI kepada wartawan.
Budi salah seorang korban kekerasan menuturkan, peristiwa bermula sewaktu ia berencana meliput kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan oknum TNI terhadap polisi di markas Kompi Bantuan C di Steba Padang.
“Saya mendapat informasi sekitar pukul 20.30 WIB. Di sana Bripda Novika Toni Syahputra menangkap jambret. Namun, polisi kemudian dikeroyok oleh TNI,” kata Budi.
Ia pun bersama wartawan lain datang ke lokasi kejadian. Ternyata di sana ia mendapati sejumlah oknum TNI tengah bersitegang dengan polisi. Spontan saja Budi mengeluarkan kameranya dari dalam tas untuk meliput kejadian itu.
Baru saja mengeluarkan kamera, tiba-tiba saja ia dihardik oknum TNI. Tidak sampai di situ saja, oknum TNI itu kemudian melempari wartawan yang ada di sana. Batu yang melayang itu tepat mengenai tiga wartawan termasuk dirinya.
“Akibatnya, kamera saya rusak, pelipis saya robek terkena lemparan batu,” kata Budi lagi.
Dasrul Djabar dari Komisi III DPR RI ketika menerima rombongan wartawan usai berunjuk rasa menyesalkan kasus penganiayaan yang dilakukan oknum TNI tersebut. Di saat semua sudah berada di tahap reformasi, masih ada saja segelintir oknum yang merusak.
“Ini tidak dibiarkan. Dalam UU No 40 tahun 1999 sudah dijelaskan bahwa wartawan itu dilindungi bukan disakiti,” kata Dasrul.
Dasrul berjanji akan menyampaikan kasus tersebut ke Komisi I DPR RI untuk ditindaklanjuti. Kalau perlu komisi I mendesak Panglima TNI dan Kasad  untuk mempertanggungjawabkan perbuatan anak buahnya. Presiden SBY juga perlu mengetahui hal itu.
Ketua PWI Sumbar Basril Basyar juga menyesalkan kasus kekerasan terhadap wartawan.  Wartawan bukan untuk disakiti tetapi dilindungi. “Saya berjanji untuk meminta pertanggungjawaban Panglima TNI untuk menyelesaikan ini. Kekerasan ini tidak bias dibiarkan,” ujar Basril Basyar.
Kasus penganiayaan oknum TNI terhadap wartawan ini sudah yang kedua kalinya terjadi. Pada Oktober 2005 lalu, dua wartawan dari harian Posmetro Padang Dasman Boy dan Hermansyah dikeroyok sejumlah warga termasuk seorang oknum TNI ketika hendak meliput penimbunan BBM di Bungus Teluk Kabung Padang. Keduanya mengalami luka memar. Diduga oknum TNI itu merupakan beking kasus penimbunan.
Kasus berawal sewaktu anggota Satlantas Poltabes Padang Putra  hendak meringkus jambret. Terjadi kejar-kejaran. Pelaku yang usai menjambret tas Renanta di Jalan Ahmad Yani, lalu masuk ke markas Kompi C.
Tidak mau kehilangan buruan, Putra masuk ke dalam markas. Di sana ia diduga menemukan salah seorang pelaku sehingga terjadi pergumulan. Di saat itulah tiba-tiba saja datang puluhan oknum TNI menghampiri dan kemudian membawa Putra ke dalam sebuah ruangan.
Ia pun mendapat perlakuan tidak enak. Mukanya bonyok-bonyok di hajar. Bahkan tulang rahangnya dipastika bergeser. Putra baru bisa lepas dari sekapan ketika intel Korem datang ke sana. Putra kemudian dibawa ke RS Yos Sudarso untuk mendapatkan perawatan intensif.
Wartawan yang mengetahui kejadian itu kemudian datang ke lokasi kejadian hendak meliput Namun naas bagi mereka, bukan berita yang didapat, tetapi, hujan batu yang diterima.
Komandan POM 1/4 Padang Letkol Dono K mengaku sudah menerima laporan dugaan kasus penganiayaan yang dilakukan oknum TNI terhadap wartawan. Ia berjanji akan menindaklanjuti laporan tersebut.

0 Responses to “Polisi Dikeroyok, Wartawan Ditodong Senpi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Tangkelek

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Masukkan alamat email Anda

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya

Bagian

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

Harian Singgalang

tweet saya


%d blogger menyukai ini: