Arif Menyikapi Alam; Solusi Hidup di Negeri Bencana

INDONESIA memang showroomnya bencana. Tidak hanya bencana gunung meletus dan longsor yang biasa terjadi, tapi berbagai macam bencana telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya sehari-hari.

Diawali dengan bencana besar di Samudera Hindia pada akhir tahun 2004, gempa berkekuatan 9,3 SR diiringi dengan luapan air (yang banyak orang baru sadari bahwa itulah tsunami) dan menelan korban sekitar 150.000 jiwa. Angka yang tidak sedikit serta menimbulkan efek domino yang tak sedikit pula.

Mata masyarakat Indonesia pun terbuka lebar bahwa negara ini adalah negara rawan bencana. Apalagi, tidak sampai di situ saja, daerah pesisir selatan Pulau Jawa pun diguncang gempa dan tsunami pada Mei 2006 yang mengakibatkan lebih dari enam ribu orang kehilangan nyawa.

Dan, setelah dirunut ke belakang, bencana memang tidak pernah lepas dari Indonesia. Data dari Walhi sejak tahun 2001 sampai 2006, terjadi peningkatan terjadinya banjir, longsor, kebakaran hutan, gagal panen dan kekeringan. Dalam rentang waktu 1998-2004 saja, terjadi lebih dari seribu bencana banjir, longsor dan kebakaran.

Secara alamiah, Indonesia memang rawan bencana. Jalur gunung api pasifik yang merupakan jalur rangkaian gunung aktif di dunia melewati sebagian besar pulau-pulau Indonesia. Sementara, tiga lempeng bumi yaitu Asia, Australia dan Pasific secara konstan terus bergerak yang setiap saat bisa berbenturan sehingga berpotensi mengakibatkan longsor, gempa dan tsunami.

Namun, gempa besar dan tsunami di Aceh seperti menjadi titik nadir tentang betapa sudah saatnya masyarakat menyadari bahwa kita hidup bersama bencana.

Tidak berarti bahwa itu harus ditakuti. Sebaliknya harus membuat setiap individu lebih bersikap bersahabat dengan alam dan belajar dari alam itu sendiri.

Akibat tidak belajar dari alam itulah, bencana akan bertambah banyak dan mengakibatkan korban yang banyak pula. Bencana tidak lagi murni dari alam, melainkan faktor kesalahan manusia sendiri. Kemarau yang panjang, kekeringan dan cuaca ekstrim yang berubah-ubah, siapa nyana kalau itu ternyata ada andil dari perilaku manusia sendiri yang mengkontribusikan pemanasan global? Longsor dan terjangan air bah, ada andil dari tangan-tangan manusia yang suka melakukan penebangan liar dan penggundulan hutan untuk ladang-ladang. Banjir di perkotaan ā€“ akibat orang-orang tak bertanggung jawab yang suka seenaknya membuang sampah di sungai dan selokan. Asap kabut yang mengganggu penerbangan ā€“ akibat pembakaran hutan secara massal. Mungkin masih banyak bencana besar yang bakal terjadi bila manusia belum juga merubah perilakunya terhadap alam.

Bahan kampanye

Satu atau dua tahun belakangan ini, masyarakat akan selalu disuguhi oleh janji-janji para politisi yang akan duduk di kursi dewan maupun yang mengincar kedudukan sebagai kepala daerah atau presiden. Kampanye-kampanye politik pun telah berseliweran di televisi. Sayangnya, tak ada yang membawa isu siaga bencana dan sikap bersahabat dengan alam di tengah bencana yang makin mengancam.

Termasuk saat kampanye calon Walikota Padang beberapa waktu lalu.Dalam masa kampanye sekitar bulan September dan Oktober 2008, tak ada satupun pasangan calon yang mengusung isu siaga bencana dan tsunami. Padahal, Kota Padang disebut-sebut peneliti sebagai daerah yang memiliki potensi resiko tertinggi di dunia jika terjadi tsunami, ditinjau dari jumlah penduduk yang berada di pesisir pantai. Hal itu disebabkan oleh letak geografis Kota Padang yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia serta dilewati oleh lempeng Indo Australia dan eurasia. Benturan atau patahan lempeng bisa memicu terjadinya gempa dan tsunami.

Bahkan, dari data Pemko Padang sendiri bersama LSM Komunitas Siaga Tsunami (Kogami) pada tahun 2005, disebutkan bahwa sekitar 350.000 dari 850.000 warganya, bermukim di daerah rawan bencana. Termasuk di daerah rawan longsor dan gelombang pasang.

Tidak hanya Padang, sekitar 80 persen wilayah Indonesia termasuk rawan bencana. Karenanya, sudah saatnya siaga bencana menjadi isu politik yang harus diusung oleh calon kepala daerah atau presiden serta calon-calon wakil rakyat.

Komitmen politis

Masyarakat punya hak untuk terlindungi dan terselamatkan oleh berbagai ancaman bencana serta kehidupan yang normal pasca terjadinya bencana. Oleh sebab itu, harus ada komitmen politis dari Pemerintah Daerah untuk melindungi masyarakat dan membuat sistem penanggulangan bencana.

Sebagai turunan dari Undang-undang Penanggulangan Bencana di pusat, Pemerintah Daerah pun harus sesegera mungkin membuat Peraturan Daerah yang di dalamnya termasuk mengatur peningkatan SDM dalam hal penanggulangan bencana, pelembagaan dan perencanaan keadaan darurat. Selain itu, Pemda juga harus memprioritaskan pemetaan daerah rawan bencana dan mensosialisasikannya pada masyarakat, tetap mengadakan simulasi bencana dan membikin hutan bakau yang efektif melindungi kawasan pesisir dari bencana tsunami. Dengan ketebalan pohonnya, sekitar 125 batang saja bisa mengurangi ketinggian gelombang dari 4,5 meter menjadi 1 meter. Perlindungan lain bisa dengan terumbu karang atau sea wall dari batu atau pasir yang dipadatkan. Konsekuensinya, tentu saja dengan pengalokasian anggaran yang mencukupi untuk segala hal yang berkaitan dengan penanggulangan bencana.

Penegakan aturan juga menjadi sisi tak terpisahkan dari komitmen politis Pemda dalam sikap siaga bencana. Setiap daerah pastinya punya Perda RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah), hanya saja dalam implementasinya sering diabaikan. Seperti rumah-rumah di bantaran sungai yang terkesan dibiarkan begitu saja. Setelah bertahun-tahun baru ditertibkan. Begitu juga rumah-rumah yang dibangun di sisi tebing curam atau di bibir pantai.

Masyarakat tak mau pindah, Pemdanya pun tak keras dalam penegakan aturan jarak rumah yang boleh berdiri dari pinggir pantai serta di daerah tebing curam. Mau tidak mau, program relokasi mestinya tetap dilakukan jika tidak menghendaki korban yang jatuh akibat bencana. Satu atau dua jiwa, tetaplah nyawa yang meskinya tidak melayang cuma-cuma gara-gara ketidaksigapan menyikapi ancaman.

Arif dan Bersahabat dengan Alam

Tidak diapa-apakan saja, alam tetap mengandung misteri bencana yang bisa terjadi tanpa diduga. Apalagi, jika manusianya selalu merongrong dan mengeksploitasi alam tanpa berpikir panjang; menggunakan daerah pesisir tanpa tanggung jawab, membabat hutan-hutan bakau untuk dijadikan tambak udang, meningkatkan gas-gas buang lewat mobil dan pabrik-pabrik tanpa menyediakan taman atau hutan kota sehingga menyebabkan pemanasan global. Individu-individu yang tak bertanggung jawab juga membabat hutan sehingga menyebabkan banjir dan longsor yang menelan nyawa-nyawa tak berdosa.

Tsunami di Aceh mengajarkan betapa laut yang surut berkilo-kilo meter dan menyuguhkan ikan-ikan yang menggelepar, bukanlah pertanda baik melainkan gelombang maha dahsyat yang akan datang. Alam juga mengajarkan bahwa babi, harimau, beruang dan kera yang masuk dan mengganggu ke kampung-kampung penduduk pertanda habitat mereka sudah diganggu. Gempa yang sering terjadi mengisyaratkan masyarakat harus menghuni bangunan yang konstruksinya kuat.

Semuanya belajar dari alam. Di sisi lain, manusia juga harus tertib dengan alam. Caranya, dengan tidak membangun rumah di bantaran sungai atau bibir pantai, tidak menggali pasir dan batu sungai secara membabi buta dan lain-lain.

Harus disadari, kita hidup di negeri bencana. Siap atau tidak siap, bencana bisa datang kapan saja. Ketidaksiapan atas resiko justru hanya akan menimbulkan banyak korban. Karena itu, lebih baik menyadari dan bersikap waspada sembari tetap bersahabat dan arif menyikapi tanda-tanda alam.

0 Responses to “Arif Menyikapi Alam; Solusi Hidup di Negeri Bencana”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Tangkelek

November 2008
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Masukkan alamat email Anda

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya

Bagian

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

Harian Singgalang

tweet saya


%d blogger menyukai ini: