Guru Tendang Kaki Murid Hingga Patah

lemah.jpg

Ferdian, Korban penendangan Oknum Guru yang mengatas namanakan kedisiplinan

Padang,–Senin, 4 Februari 2008 sekitar pukul 07. 30 WIB lalu, Ferdian (18) Siswa Kelas II Jurusan Audio/Visual datang ke sekolah untuk mengambil jurnal  Praktek Kerja Lapang (PKL) yang tertinggal.  Waktu itu memang siswa lainnya sedang mengikuti upacara bendera. Diantara siswa itu ada juga yang terlambat.  Selesai upacara, salah seorang guru bernama Ismansyah mengumpulkan para siswa yang terlambat di depan ruangan guru, Ferdipun ikut disuruh berkumpul oleh Ismanyah (guru jurusan otomotif juga Pembina osis). Stelah dikumpul, semua siswa yang terlambat termasuk Ferdi disuruh berbaris. Tanpa tau sebab apa, Ismasyah menendangkan kakinya dan mengenai paha bagian belakang kaki Ferdi, pada saat itu juga Ferdi terjatuh dan terdengar suara patah (craakk). Ferdi yang bertubuh tinggi dan kurus itu meringkih  kesakitan, tetapi si Guru malah menghardik “Tagak Capek..! jan pura-pura jo lai, beko aden sipak baliak” (berdiri cepat..! Jangan pura-pura, nanti saya tending lagi). Ketika Ferdi berusaha berdiri, ternyata dia kembali terjatuh dan kaki yang ditendang tadi seperi bengkok dan membesar.Panik, itulah perasaan yang muncul di SMKN 1 Padang, pada waktu itu, tidak disangka, keinginan menegakkan disiplin berujung kepada “Celaka”, atas saran kepala sekolah, maka Ferdi yang tidak lagi sanggup untuk berdiri digotong dan dibawa ke tukang urut (dukun kampung).Setelah diurut, Ferdi panggilan Ferdian, dibawa kerumahnya di jalan Apel II, Perumnas Belimbing, Kuranji Kota Padang. Sebulan sudah Ferdi menikmati hidup hanya berbaring di atas kasus tipis dan hanya ditemani dengan komik untuk mengisi waktu, selama satu bulan itupun ia tidak pernah mengecap buku bahkan pelajaran sekolah. Kakinya yang patah juga tidak pernah divisum ataupun dironsent di rumah sakit, hanya dibalut dengan lukah (Bambu yang dipotong kecil-kecil) dan dua penyangga yang dibuat dari kayu.Farida (48) ibu Ferdi menyesalkan tindakan dari salah seorang Guru SMKN I Padang yang bertindak diluar batas kewajaran pendidik, yang telah menendang anaknya hingga mengalami patah tulang dan tidak bisa mengecap PKL yang menjadi tugas wajib siswa kelas II. Farida yang berprofesi sebagai buruh cuci pakaian keliling itu berkeinginan supaya anaknya dirawat dirumah sakit, tetapi pihak sekolah dan pelaku tidak mau dengan alasan bahwa kalau dibawa kerumah sakit, maka besar kemungkinan kaki anaknya diamputasi. Mengenai biaya di rumah sakit pihak sekolah tidak mau menanggungnya. Ketika ditanya kenapa tidak lapor kepolisi, ibu Ferdi berucap dengan gemetar “ia takut karena pihak sekolah dan pelaku pernah berkata kalau sampai kepolisi atau dipublikasikan maka biaya pengobatan anaknya akan diputus, dan keluarga harus menanggung akibatnya sendiri termasuk perihal sekolah Ferdi akan dipersulit. “Lagi pula saya tidak punya biaya untuk melapor. Untuk makan saja sudah susah tambah ibu empat orang anak ini,” katanya.Sementara itu, pihak sekolah yang diwakili oleh humasnya Drs Karany  mengatakan  kejadian pada tanggal 4 Februari itu murni kecalakaan bukan kesengajaan. Pada waktu itu banyak siswa yang terlambat dan tidak ikut upacara bendera, bahwa ada yang merokok, sebagai pembina osis, maka Ismasyah mengambil tindakan dengan mengumpulkan seluruh siswa yang terlambat di depan ruangan guru, tanpa sengaja dan maksud untuk tidak menendang Ferdi, tetapi tiba-tiba Ferdi lah yang terkena tendangan. Ia menambahkan setelah kejadian itu, Ferdi langsung kami bawa kerumah sakit untuk diobati dan dironsen. Namun setelah di tanya dibawa kerumah sakit mana, Humas SMKN I Padang tersebut kalangkabut dan berusaha menemui kepala sekolah. Lalu keterangan yang diberikan sebelumnya diralat dikatakan bahwa memang pihak sekolah berencana membawa Ferdi ke rumah sakit, tetapi yang bersangkutan tidak mau, karena takut besarnya biaya yang harus dikeluarkan, jadi ia minta dibawa kedukun urut yang berada disamping sekolah saja.Perlu diketahui, bahwa pihak sekolah telah menanggung seluruh pengobatan Ferdi  selama dirujuk kedukun kampung itu, satu kali pengobatan biayanya Rp. 150.000,- dan itu dilakukan dua kali seminggu, pengobatan itu masih berlangsung sampai sekarang. “Selain itu kami juga membelikan makanan dan susu untuk Ferdi. Ferdi itu termasuk anak dari keluarga tidak mampu dan ia dikategorikan sebagai anak yang kurang gizi, jadi karena tertendang sedikit saja, tulangnya langsung patah,”  ujar Karany.Anggota DPRD Kota Padang dari komisi D Budiman, menyatakan tidak satupun diperbolehkan melakukan kekerasan di dunia pendidikan. Jika ini terjadi maka menandakan kegagalan didunia pendidikan  di kota Padang.“Untuk itu kami dari Komisi D meminta dinas pendidikan kota Padang segera mengambil sikap tegas terhadap pelaku tindak kekerasan didunia pendidikan ini,” kata Budiman.Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang, M. Nur Amin mengatakan tidak dibenarkan tindakan kekerasan  yang terjadi didunia pendidikan. Untuk kasus yang menimpa Ferdi, Nur Amin akan memanggil kepala sekolah beserta guru yang bersangkutan untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya.  “Selain itu dinas pendidikan akan melakukan test psikologi terhadap seluruh guru guna mengetahui tingkat emosional guru, sehingga kekerasan didunia pendidikan dapat diminimalisir,” tambahnya.   Kasat Reskrim Poltabes Padang AKP. Heri Budiman menghimbau pihak keluarga Ferdi untuk segera melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian serta melakukan visu. Pihak keluarga tidak perlu ragu dan takut untuk memberitahukan kepada aparat kepolisian tentang tidak pidana penganiayaan yang terjadi. Tentang adanya indikasi ancaman dari oknum guru pada Ferdi, tidak perlu ditakuti, apabila memang ada pengancaman, maka hal itu dapat diancam lagi dengan pasal lain.   Laporan: Ronny Saputra (Staf Divisi HAM)   

3 Responses to “Guru Tendang Kaki Murid Hingga Patah”


  1. 1 asep April 17, 2008 pukul 3:52 am

    sebenarnya menurut saya hal ini perli ditindak lanjuti dengan serius. agar tidak ada korban kekerasan berikutnya.

  2. 2 asep April 17, 2008 pukul 3:55 am

    hal ini perlu ditangani dengan serius. agar tidak ada korban kekerasan berikut. sepertihalnya bukan di padang saja terjadi kekerasan-kekerasan terhadap sisiwa. tetapi juga didaerah daerah lain di sumbar khususnya dan indonesia umumnya.

  3. 3 DEWO September 9, 2010 pukul 6:16 am

    guru juga manusia
    kalo sifatnya preman
    tetap aja bangsat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Tangkelek

Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Masukkan alamat email Anda

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya

Bagian

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

Harian Singgalang

tweet saya


%d blogger menyukai ini: