Pandai Sikek, Besar di Dunianya Sendiri

PADANG–Kain tenun itu namanya Pandai Sikek. Pandai Sikek merupakan nama salah satu kanagarian di Kabupaten Tanah Datar. Bila  anda datang dari kota Padang, lokasinya tak jauh setelah melewati Lembah Anai sebelum masuk ke kota Bukit Tinggi – sekitar 15 menit dari Lembah Anai.
Pandai Sikek berada di sebelah kiri jalan. Jangan sampai terlongsong. Perhatikan tanda jalan, ada papan reklame yang menandakan lokasi Pandai Sikek. Masuklah ke dalam sekitar satu kilometer. 
Setelah itu baru didapati sejumlah toko penjual kain songket. Di Padang ada pula pengerajin songket Pandai Sikek ini. Nama tempatnya Rumah Bagonjong. Terletak di Jalan Raya Bungus sekitar lima kilometer dari pusat Kota Padang.
Tempat itu menjadi salah satu homebase craft (pusat kerajinan tangan) di Padang.
Di sana tidak hanya mengerjakan tenunan Pandai Sikek saja, tetapi  juga menjadi semacam sekolah bagi anak gadis yang ingin belajar menenun. Di Sumatra Barat ini, dulunya, setiap anak gadis harus bisa menenun. Tradisi seperti itu sepertinya hendak dilakukan oleh Rumah Bagonjong.
Nelvi pengelola Rumah Bagonjong kepada Singgalang mengatakan, saat ini terdapat 20 gadis yang menenun. Sudah sejak lama ia mendidik para penenun muda agar bisa terampil. Mereka itu pemula yang dididik sejak nol. Lalu diberilah ilmu kemudian dipraktikan. 
Untuk menenun, mereka bisa belajar hanya tiga hari saja. Tapi kalau ukuran mahir, membutuhkan waktu satu tahun. “Kami juga membuat sistem sel. Penenun yang sudah mahir bisa menenun sendiri dan kemudian menjualnya kepada kami. Seperti 
menciptakan home industri dari rumah ke rumah,” katanya lagi. Bahkan, ia pun acapkali memberikan bantuan modal bagi yang ingin  buka usaha sendiri. Hasilnya pun dibagi dengan adil. Setelah  modal dikembalikan, keuntungan dibagi dua.

Menggali corak
Untuk membuat satu kain songket paling lama dibutuhkan waktu lima bulan. Hasilnya sudah pasti dijamin bagus dan halus. Harganya pun tidak main-main, sekitar Rp10 juta. Ada pula kain songket yang dibuat hanya dalam waktu sepuluh hari saja. Harganya pun tidak lah terlalu mahal, bisa dibeli dengan harga Rp200 ribu saja.
Bermacam-maam pula corak kain tenun songket Pandai Sikek asal  Sumbar ini. Ada yang nama motifnya pucuak rabuang, batang pinang, susun siriah, sirangkak, paku rabah serta bayam. Nama motif itu  baru sebagian kecil saja. Tercatat, model motif itu bisa mencapai 
1.100 jenis. Dalam satu kain songket, motif tersebut dipadukan sehingga menghasilkan model songket yang indah.
“Untuk diketahui, motif tersebut asli Sumbar. Seorang peneliti kain songket pernah mengatakan, motif milik Sumbar tersebut mempunyai ciri khas yang berbeda dengan songket daerah lain, ini sudah diakui dunia,” kata Nelvi.
Daerah lain pun punya kain songket juga. Tapi milik Pandai Sikek tidak bisa ditiru siapapun. Hitungan benang untuk ditenun, betul-betul diperhatikan.
Motif tersebut bisa berkembang sesuai naluri penenunnya. Atau bisa dikatakan, motif Pandai Sikek tidak kaku dan berbentuk apa saja tergantung inovasi.
Ia menjelaskan, saat ini pemerintah perlu mematenkan songket asli Pandai Sikek karena kekhasannya itu. Kalau tidak, bisa saja daerah lain mengklaim songket Pandai Sikek milik mereka.
Nelvi mengakui saat ini masih banyak motif  Pandai Sikek yang hilang karena sudah jarang digunakan dalam kain. Untuk itu ia saat ini tengah berupaya mencari motif tersebut dengan cara merepro ulang. Motif tersebut dibuat ilustrasinya baik melalui 
foto, kemudian dituangkan ke kain.
Selain membuat kain songket, Rumah Bagonjong juga menghasilkan kebaya dan ukiran Pandai Sikek. Harganya pun tidaklah terlalu mahal berkisar dari Rp200 ribu hingga Rp2 juta. Untuk ukiran Pandai sikek ini ada ciri tersendiri, namanya pahek 
layang. Jenis ini tidak akan ditemukan di manapun, walau itu kiran asli Jepara.

Ke Malaysia

Nelvi menagakui terkadang ada juga bekas anak didiknya yang pergi  e luar negeri terutama Malaysia. Setelah terampil, mereka pun erusaha mencari gaji yang layak di negeri orang. Tidak hanya enenun, pengukir Pandai Sikek yang mahir juga ada di Malaysia.
“Umpanya saja, kalau di sini bisa digaji Rp750 ribu per bulan, alau di Malaysia, mereka bisa mendapatkan uang Rp2 juta. Siapa yang tidak ingin,” kata Nelvi lagi.

3 Responses to “Pandai Sikek, Besar di Dunianya Sendiri”


  1. 1 rhe_na Juli 2, 2008 pukul 3:53 am

    assalamualaikaum

    salam buat semua orang kampungku
    sebagai seorang gadis pandai sikek walaupun hidup di rantau urang saya sangat merasa sedih dengan perkembangan tenunan andai sikek akhir-akhir ini, stok benang yang susah di dapat serta mahal membuat gadis minang pandai sikek khususnya berpaling untuk mencari penghidupan yang lain bahakan tak sedikit yang pergi merantau untuk mrncari “kehidupan yang layak”

    bagaimana kehidupan kain songket ke depan??????

    untuk dinas pariwisata padang di mintasehingga songket dapt memiliki daya pasar yang muas sehingga salah satu aset busdaya ini dapt berkembang sengan baik, karena kepandaian ini hanya milik masayrakat pandai sikeks saja jadi patut untuk di lestarikan

    katanya mau menjadi kota pariwisata
    buktikan kalau semua aspek dapat di jadikan objek wisata

    saya kira pemerintah sumbar tidak akan merasa di rugikan , karena untuk 10 tahun terakhir terlihat banyak sekali antusiasme tourist baik lokal maupun internasional yang berkunjung ke pandai sikek

    buktikan padang tidak kalah dari bali
    karena duniapun mengakui

  2. 2 wati Oktober 16, 2008 pukul 11:45 am

    terkadang pemerintah sumbar memang harus lebih kritis terhadap hasil kebudayaan daerah sendiri agar tidak lebih dahulu dipatenkan oelh daerah lur. seni budaya juga merupakan sumber daya alam.
    kapan padang akn bergerak maju terutama dinas pariwisatanya

  3. 3 aidilkoto Juni 15, 2009 pukul 3:49 am

    assalamualaikum
    salam buat sanak2 di kampung
    sebagai pemuda pandai sikek yang sedang berada di rantau, tentunya saya bangga bahwa tenun songket pandai sikek telah diakui oleh berbagai kalangan sebagi sebuah karya seni yang memiliki nilai yang tinggi yang merupakan warisan dari nenek moyang kami. setiap hari puluhan wisatawan baik domestik maupun mancanegara datang ke nagari pandai sikek. saya menharapkan seandainya pemerintah daerah lebih perhatian lagi untuk membina penenun tradisonal di kampung saya. selama ini nilai komersial dari tenunan pandai sikek hanya dikuasai oleh segelintir kalangan. akan lebih baik jika adanya pemerataan dalam pengelolaan songket pandai sikek, seperti dengan mendirikan koperasi tenun songket. agar penenun tradisional dapat menjual hasil keringatnya dengan harga yang bersaing dan akhirnya terciptalah kemakmuran yang merata bagi seluruh warga di nagari pandai sikek.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Tangkelek

Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Masukkan alamat email Anda

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya

Bagian

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

Harian Singgalang

tweet saya


%d blogger menyukai ini: