Nasib Petani Masih Terombang-ambing

PADANG—Jadi petani itu susah. Sudahlah hidupnya berada di bawah garis kemiskinan, nasibnya juga mengalami tekanan. Seperti sekarang ini yang terjadi. Harga pupuk
melambung tinggi, menama padi harus tetap jalan. Kalau tidak, anak-anak mereka tidak bisa makan. Seperti yang dialami Idil, petani yang tinggal di kawasan Sungai Sapih Kecamatan Koto Tangah. Harga pupuk dalam dua bulan terkahir ini melonjak naik. Tentu saja ia dan petani lainnya kelabakan.
“Kenaikan harganya mencapai Rp1.000 per kilogramnya,” kata Idil. Jika dirinci dengan biaya membasmi hama, sewa bajkan dan lainnya, biaya produksi mencapai Rp2,5 juta. Dari biaya itu, hasil panen yang diperolehnya sekitar 15 karung padi. Jika dikalikan harga
satu karungnya Rp160 ribu, maka uang yang diperoleh hanya Rp2,1 juta. Jadilah setiap panen ia mengalami kerugian sekitar Rp400 ribu.
Ia tidak bisa membayangkan jika harga pupuk terur merambat naik. Jika ini terur-terusan terjadi, tamatlah riwayat petani di Sumbar ini.
Idealnya perbandingan pemakaian pupuk Urea Ss dan Npk adalah 1:1:2. Akan tetapi, sejak pupuk merambat naik, perbandingannya berubah menjadi 1:1:1. Alhasil dari
pengurangan komposisi ini kualitas bulir padi yang dihasilkannya tidak penuh sehingga berpengaruh terhadap berat padi.
Ia juga menjelaskan untuk ukuran satu petak sawah yang berukuran 1000 meter persegi membutuhkan pupuk sekitar 40 kilogram mulai saat menanam hingga masa panen. Jika tidak ada hama atau banjir, maka hasil panen yang didapat hanya sebanyak 10 karung padi atau setara 352 kg. Namun kenyataan sekarang karena pemakaian pupuk dikurangi
menjadi hanya 30 kilogram, maka maksimal hasil panen yang diperolehnya hanya lima karung padi atau setara 176 kilogram.
Syamsul, petani di Kelurahan Balaibaru menyatakan, sejak pupuk naik, ia kerap kali terlambat memberi pupuk.
Alasannya, karena untuk mendapatkan puypuk ia harus berhutang kesana kemari. Itupun kalau dapat, kalau tidak terpaksalah ia menunda memupuk tanaman padinya.
|”Kalau tidak berhutang, mau beli pupuk pakai apa,” ujarnya. Menurutnya, sejak harga pupuk naik ia seringkali terlambat menggunakan pupuk karena harus mencari pinjaman uang untuk membeli pupuk.
Walau begitu, ia tidak kehilangan akal. Untuk menutupi tingginya biaya produksi padi, sambil menunggu musim tanam padi kembali, tanahnya akan ditanami mentimun. Dari
penjualan mentimun inilah nantinya yang dijadikan modal menanam padi.
Ujang, 43, tidak habis kenapa pupuk bisa langka. Padahal setiap kali ia membaca di koran, pejabat yang berwenang mengatakan stok pupuk di Sumbar aman. Namun kenyataannya, petani masih kesulitan mendapatkan kebutuhan yang satu ini.
“Di dekat rumah saya saja, pemilik kios mengaku harga pupuk naik karena persediannya terbatas,” kata Ujang.

Kesempatan
Harga pupuk naik, membuat beberapa penjahat nekad mencari kesempatan. Mereka mengganti karung pupuk subsidi dengan yang non subsidi. Pupuk itu sengaja ditimbun, lalu dijual kembali.
Polda Sumbar pada Rabu (22/11) di Jalan BY Pass Simpang Taruko Padang lalu menangkap tujuh tersangka pelaku penimbunan pupuk subsidi ini. Tidak tangung-tanggung, 300 karung diamankan petugas.
Saat ditangkap , petugas mendapati karyawan pabrik itu tengah memuat pupuk. Melihat itu penggeledahan pun langsung dilakukan. Hasilnya, di dalam bak truk itu ditemui sebanyak 220 karung pupuk ditambah 80 karung lainnya di kios dengan berat masing-masing 50 Kg.
Hebatnya lagi, karung pupuk itu sudah berganti kulit. Direktur Reskrim Polda Sumbar Kombes Pol Ade Rahmat Suhendi mengatakan, dari pengakuan pelaku pupuk yang
karungnya sudah diganti itu direncanakan bakal dijual ke Pekanbaru Riau.
“Perbuatan mereka jelas melanggar ketentuan Disperindag serta Undang-Undang ekonomi. Pupuk itu mereka beli Rp60 ribu lalu dijual seharga Rp100 ribu karena non
subsidi,” kata Ade.
Di pihak lain, Area Manejer PT Pusri Sumbar Mohammad Syam menyatakan, pelaku yang ditangkap petugas itu bukanlah pengecer pupuk resmi Pusri. Soalnya, lokasi itu tidak terdaftar dalam pihak distributor atau pengecer yang telah ditetapkan PT.Pusri.
Ia tidak menampik ketelibatan ‘orang dalam’.
Namun ia menyerahkan sepenuhnya kasus itu kepada petugas kepolisian.
“Yang jelas, stok pupuk di Sumbar ini aman dan tidak ada kelangkaan,” ujarnya lagi.
Entah ada hubungannya atau tidak, beberapa waktu lalu tersiar kabar kurang mengenakkan bagi petani. Pemerintah pada tahun depan mengurangi subsidi pupuk Urea. Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian (Deptan), Sutarto Alimoeso beberapa waktu lalu mengatakan, jika pada 2007 subsidi Urea sebanyak 4,5 juta ton, maka pada 2008 hanya 4,3 juta ton. Sedangkan untuk SP-36 dan NPK subsidinya
akan ditingkatkan dengan rincian SP-36 dari 800 ribu ton menjadi satu juta ton dan NPK dari 700 ribu ton menjadi satu juta ton.
Sementara pupuk ZA subsidinya tetap sebanyak 700 ribu ton. Untuk tahun depan pemerintah juga akan mengalokasi subsidi pupuk organik sebanyak 500 ribu ton.

0 Responses to “Nasib Petani Masih Terombang-ambing”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Tangkelek

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Masukkan alamat email Anda

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya

Bagian

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

Harian Singgalang

tweet saya


%d blogger menyukai ini: