Menyingkap Tabir Mande Rubiah

Seperti itulah kata orang-orang yang pernah datang ke Lunang. Mereka terkesan dengan suasana daerah di Pesisir Pulau Sumatra itu dan tentu akan berpesan kepada siapapun yang akan pergi ke Lunang, agar tidak lupa datang ke Rumah Gadang atau istana Mande Rubiah. Di Rumah Gadang yang terdapat di pinggir Batang Lunang itulah dibangun sejarah yang sampai kini masih belum dapat dikuak oleh para ahli sejarah. Apa sebenarnya yang terjadi ratusan tahun lalu di daerah itu. Maklum, daerah ini baru dikenal luas oleh masyarakat setelah dibukanya menjadi daerah transmigrasi.
Kaburnya sejarah Rumah Gadang Mande Rubiah, berkaitan erat dengan kaburnya sejarah Minangkabau sendiri. Banyak orang mengenal kerajaan di Minangkabau hanyalah Kerajaan Pagarruyung, padahal Kerajaan Pagarruyung hanya salah satu dari sekian banyak kerajaan yang pernah ada di tanah Minangkabau. Sebut saja Kerajaan Indopuro, Kerajaan Damasraya, Kerajaan Padang Laweh, Kerajaan Jambu Limpo dan Kerajaan Mande Rubiah. Kerajaan yang terakhir ini disebut-sebut sebagai pewaris tahta Bundo Kanduang yang dikenal sebagai Raja Perempuan Pagarruyung yang paling termasyhur dan melegenda di tengah-tengah masyarakat Minangkabau.
Sejarah tidak menemukan secara pasti bagaimana hubungan Kerajaan Pagarruyung dengan Kerajaan Mande Rubiah yang terletak di Nagari Lunang, Kecamatan Lunang Silaut, Kabupaten Pesisir Selatan dengan Kerajaan Pagarruyung yang terletak di Tanah Datar. Hubungan antara dua kerajaan besar ini diungkapkan dalam Kaba Cindua Mato yang sama melegendanya dengan Bundo Kanduang. Menurut cerita rakyat Minangkabau itu, disaat terjadi pertempuran hebat antara Pagarruyung dengan Kerajaan Singiang-Ngiang (selama lebih kurang 23 tahun), Bundo Kanduang dengan beberapa pengikutnya mengirab (terbang) ke langit. Bahasa itu tentu hanyalah sebagai kiasan dari kenyataan yang sebenarnya bahwa Bundo Kanduang melarikan diri ke Nagari Lunang dan mendirikan sebuah kerajaan kecil di daerah itu. Pelarian merupakan hal yang lumrah bagi orang-orang yang kalah, tidak hanya di masa itu, akan tetapi juga di saat sekarang ini. Untuk menyembunyikan identitasnya, Bundo Kanduang menukar namanya dengan Mande Rubiah, yang kata awal bahasa itu dalam bahasa Minangkabau memiliki makna yang sama.
Bundo Kanduang bagi banyak ahli sejarah tetap saja sebagai tokoh yang misterius keberadaannya. Hal ini bisa jadi karena Minangkabau sebelum Islam masuk ke daerah ini tidak mengenal tradisi menulis, sehingga sejarah hanya diwariskan secara lisan dari mulut kemulut. Tidak hanya sebatas itu akan tetapi sejarah pun dibungkus dalam bentuk cerita yang disebut di Ranah Minang sebagai Kaba. Maka tersebutlah berbagai kisah semisal asal keturunan Minangkabau dari Iskandar Zulkarnain (Alexander Agung). Dalam Tambo Minangkabau disebutkan bahwa Iskandar Zulkarnain memiliki tiga orang anak laki-laki. Ketiga orang anak ini adalah Maharaja Alif, Maharaja Dipang dan Maharaja Diraja. Anak Iskandar Zulkarnain yang terakhir ini datang ke daratan Minangkabau sewaktu Gunung Marapi masih sebesar telur itik. Maharaja Diraja inilah yang kemudian dipercayai sebagai nenek moyang orang Minangkabau.
Di Lunang juga terdapat komplek makam Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Puti Bungsu, Cindua Mato dan beberapa pengikutnya. Kuburan Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Puti Bungsu dan beberapa orang pengikutnya terletak dalam satu komplek. Sementara itu kuburan Cindua Mato terpisah hampir satu kilometer dari komplek makam Bundo Kanduang. Entah mengapa makam Cindua Mato terpisah dari komplek makam yang Bundo Kanduang, yang penting semua makam manusia-manusia yang sering dijumpai dalam mitos Minangkabau itu sama-sama dikeramatkan.
Dari semua makam itu yang juga sangat menarik bagi pengunjung adalah nisan-nisan di setiap kuburan itu yang unik. Nisan yang tidak biasanya dijumpai di Minangkabau itu khabarnya didatangkan dari Aceh, makanya orang-orang setempat juga menyebutnya sebagai Nisan Aceh. Bentuk nisan itu seperti penggada Bima yang sering dijumpai di film-film. Mempunyai ukiran yang tidak terpikirkan oleh manusia sekarang bagaimana cara orang-orang dimasa ratusan tahun lalu itu membuatnya.
Bundo Kanduang, yang kemudian berganti nama menjadi Mande Rubiah, sampai sekarang tahta kebesarannya masih berlanjut hingga Mande Rubiah VII. Keberadaan Mande Rubiah sebagai penerus kebesaran Bundo Kanduang diakui di tengah-tengah masyarakat tidak hanya di Nagari Lunang, akan tetapi sampai ke daerah-daerah yang pernah dipengaruhi oleh kekuasaan Minangkabau seperti Indopuro, Muko-Muko (Bengkulu), Jambi, dan Palembang. Bahkan sampai sekarang masih ada masyarakat dari Air Bangis, yang mencari nenek moyang mereka ke Nagari Lunang.
Mande Rubiah VII, sebagai pewaris tahta Bundo Kanduang menjadi pemimpin bagi masyarakat, tidak hanya secara simbolik tapi berlaku dalam berbagai kegiatan adat, agama, bahkan pemerintahan. Dalam tataran adat, Mande Rubiah VII yang melantik atau mensyahkan penghulu nan salapan (pimpinan adat). Selain itu Mande Rubiah VII juga memberikan keputusan akhir tentang apa yang dimusyawarahkan oleh pimpinan adat. Bila Mande Rubiah VII setuju maka keputusan berlaku, bila keputusan itu kurang berkenan di hati Mande Rubiah VII, maka keputusan harus ditinjau ulang kembali.
Dalam tataran agama, berbagai kegiatan keagamaan seperti Maulid Nabi dan peringatan Lebaran, dipusatkan di Istana Mande Rubiah. Prosesi kegiatan keagamaan ini jangan dibayangkan berlaku seperti kegiatan Maulid dan Lebaran sebagaimana halnya yang dilakukan masyarakat biasa, akan tetapi peringatan Maulid dan Lebaran ini dilakukan dengan upacara adat yang menghabiskan waktu berhari-hari. Untuk Maulid Nabi, masyarakat akan memusatkan kegiatan di Istana selama 3 hari. Acara dimulai dari Istana Mande Rubiah, kemudian dilanjutkan ke Masjid Nagari dan hari terakhir peringatan kembali diakhiri di Istana Mande Rubiah.
Sementara itu dalam tataran pemerintahan, kepala pemerintahan setempat selalu minta berbagai pertimbangan kepada Mande Rubiah VII sebelum mengambil keputusan yang menyangkut hajat hidup rakyat. Upacara pelantikan dan upacara resmi lainnya, tentu saja di pusatkan di Istana Mande Rubiah.
Tentang jejak-jejak sejarah yang ditinggalkan Bundo Kanduang di Kerajaan Mande Rubiah, selain peninggalan-peninggalan kuno yang ada di istana seperti; manuskrip, senjata-senjata, dan alat-alat rumah tangga kerajaan yang telah berusia ratusan tahun, di sekitar komplek Istana Mande Rubiah juga dapat ditemukan kuburan para tokoh yang melegenda di Minangkabau (Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Rajo Mudo, Puti Bungsu, dan Cindua Mato). Namun yang terpenting jejak yang ditinggalkan Bundo Kanduang di Nagari Lunang adalah pengaruh Mande Rubiah di tengah-tengah masyarakat yang semakin mengukuhkan bahwa beliau benar-benar sebagai penerus kebesaran tahta Ratu Minangkabau. Azwar (Staf Audiovisual Fakultas Sastra Unand, Padang)

4 Responses to “Menyingkap Tabir Mande Rubiah”


  1. 1 ahmadsalehudin Desember 21, 2007 pukul 2:02 am

    jika sempat silahkan buka http://www.melayuonline.com
    trimakasih.
    wassalam
    Ahmad Salehudin, MA.
    redaktur budaya MelayuOnline email ahmad_salehudin@yahoo.co.id dan ahmad@melayuonline.com

  2. 2 ANGGI ANGGARA Oktober 30, 2009 pukul 2:48 pm

    halo… semua, knalin gua anggi anggara anak lunang ,KNAL kan ama gua!O… YA UNTUK ANAK LUNANG MAJU TERUS YA..

  3. 3 Anwar Muis Desember 13, 2009 pukul 12:13 pm

    Harapan setiap anak Passie, peduli akan khsanah sejarah yang tercecer mari kita tautkan, agar generasi di kemudian hari mendapat cerita yang lebih lengkap….teruslah berkarya, Allah swt memberikan jalan… amin

  4. 4 Lavy Januari 12, 2013 pukul 8:15 am

    Baru mendengar ada kisah seperti ini tentang Bundo Kanduang, padahal sudah lama menjadi peminat hikayat tentang Bundo Kanduang. jadi pengen main-main ke Lunang. Semoga suatu hari nanti kesmapaina🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Tangkelek

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Masukkan alamat email Anda

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya

Bagian

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

Harian Singgalang

tweet saya


%d blogger menyukai ini: