Sekarang Saya Punya Kampung…

PADANG- Pulang kampung merayakan Lebaran, baru sekarang saya rasakan. Kalau dulu saya selalu melewati Hari Raya Idul Fitri di ‘kampung’ saya di Kota Padang ini. “Sekarang saya sudah punya kampung,” kata saya kepada teman-teman se kantor menjelang Lebaran tiba.
Umur sudah 29 tahun. Menginjak usia yang ke-29 inilah saya menikmati berlebaran di kampung. Walaupun itu bukan kampung saya, tapi sudah menjadi bagian hidup. Jorong Kawai, Kanagarian Batu Bulek, Kabupaten Tanah Datar nama kampungnya. Terletak di sebelah timur Kota Batusangkar atau sekitar 25 Km jaraknya. Ditempuh dengan perjalanan darat lebih kurang setengah jam.
Jorong Kawai adalah kampung istri tercinta saya, Melda Riani. Karena ia punya kampung, sebagai suami makanya saya terbawa rendong. Jadilah Jorong Kawai itu menjadi kampung saya.
Awal menikah pada Juli 2007, saya sudah berkelakar dengan istri saya itu. Bahwa beruntunglah saya ini, menikahinya. Sebab, sekarang saya sudah punya kampung halaman, tidak seperti dulu lagi.
“Iya, hari rayo bisuak awak pulang kampuang. Rasakanlah nikmatnya pulang kampung itu, katanya saat itu. Jadilah Lebaran tahun ini saya tunggu-tunggu. Momen spesial dalam hidup saya ini. Karena di tahun inilah saya merasakan pertama kalinya pulang kampung.
Sebenarnya, saya ini juga punya kampung. Tapi jauh di seberang lautan. Entah di mana pula letaknya, di mana RT, RW, kelurahannya, kecamatannya. Namun yang saya tahu, bapak saya itu orang Jawa asli. Tapi, sewaktu ditanya dulu, bapak saya itu mengaku kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah. Tapi, sejak usia 12 tahun sudah ada di Padang ini. Jadilah ia tidak ingat lagi dimana kampungnya. Kalau ibu, orang Padang. Sehingga kalau berlebaran itu, pulang kampung ke rumah ibu alias tidak kemana-mana.
Sejak seminggu menjelang Lebaran, kami mulai mengancar-ancar untuk pulang kampung ke Kawai. Karena memikirkan nasib kehidupan hajat hidup orang banyak ini, kami tidak bersamaan pulang kampung. Istri saya berangkat duluan sehari. Sebelum berangkat, kami sudah membooking travel menuju Kawai.
Waktu berangkat ini dimulailah perjalanan panjang menuju kampung halaman. Di tiket travel saya harus berangkat pukul 12.00 WIB. Menjelang itu, saya masih sibuk mengurus yang tercecer, maklum wartawan. Terakhir saya hendak membeli baju Lebaran. Waktu di jam tangan sudah menunjukkan pukul 11.15 WIB.
Di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Padang ini, saya sibuk mencari baju. Seperti orang kaya saja, melihat yang agak tercelak, langsung disambar. Tidak peduli harganya, maklum THR sudah keluar di Harian Singgalang. Ketika mau membayar, di sinilah kacaunya. Ternyata tidak saya saja yang berbelanja, banyak juga masyarakat yang lain membeli perlengkapan berlebaran. Sebagai warga negara yang baik, saya ikut antre. Tapi, jarum jam terus berputar dan sudah menujukkan angka 11.45 WIB. Karena antrean masih panjang, dengan bersigegas, saya kembalikan baju itu ke raknya dan pulang menuju rumah.
Sampai di rumah. Waktu menujukkan angka 11.55 WIB. Setelah pamit dengan orangtua, saya pun naik ojek menuju pool travel tersebut. Dari jauh saya tidak lagi melihat mobil travel. “Mungkin masih menjemput penumpang yang lain,” kata saya dalam hati. Setelah membayar ongkos ojek, saya temui karyawan travel itu. Saya jadi kaget, ternyata busnya sudah berangkat. Katanya saya terlambat lima menit.
Saya pun jadi berpikir keras, mau pulang kampung dengan apalagi. Dengan sepeda motor saya takut celaka. Biasalah, kalau mau mudik ini, pemilik kendaraan seperti sopir angkot, bergegas, selamat nomor dua.
Saya putuskan naik bis di depan kampus UNP. Rencananya, naik bis ke Batusangkar, setelah itu sambung mobil ke Lintau dan turun di Simpang Kawai. Untung saja sesampainya di sana, saya mendapati di antara bus AKDP itu ada yang langsung ke Lintau. Rencana pun buyar, tidak jadi saya sambung bus yang menghabiskan waktu.
Saya kembali untung, ternyata di dalam bus, penumpangnya belum begitu ramai dan kebagian tempat duduk. Saya mulai menunggu kapan bis itu jalan. Lima menit, 10 menit, 15 menit, setengah jam, bis itu belum juga berjalan. Baru pada hitungan satu jam, bus itu berjalan, tapi pelan pula. Satu persatu penumpang pun naik. Sampai di Lubuk Buaya, bus sudah penuh terisi, bahkan ada yang tidak kebagian tempat duduk. Ketika memasuki kawasan Lubuk Aluang, baru saya sadar, ada hewan di dalam bus, yakni itiak. Sebab, ketika sopir mengarahkan busnya ke salah satu masjid untuk Salat Zuhur, hewan itu tersenggol oleh saya dan menimbulkan bunyi riuh. Saya pun tersenyum. Begini rasanya pulang kampung naik bus itu.
“Kalau tas apak ndak baa dipijak. Tapi, Itiak itu jan, katanya. Sepanjang perjalanan memasuki Kota Batusangkar, tidak henti-hentinya hewan itu berbunyi. Pemiliknya, mengatakan, kalau itiak itu pemberian saudaranya di Padang. Ia datang ke Padang menjenguk saudaranya. Ketika pulang, ia diberi uang dan itiak sepasang.
Rencananya awak taranakkan di kampuang, tuturnya. Sampai di Kawai, saya menghabiskan waktu 4,5 jam.

Sepi
Lebaran tahun ini kata istri saya sepi. Perbedaan waktu Lebaran ternyata berpengaruh di Rumah Gadangnya. Di Kawai, ada yang lebarannya hari Jumat dan ada pula yang Sabtu. “Kalau tahun sebelumnya, Rumah Gadang kami ramai dengan tradisi silaturahmi sesuku. Tapi sekarang, jadi sepi. Hal ini juga terjadi di Rumah Gadang yang lain,” kata istri saya. Walau begitu, Lebaran jalan terus!
Berlebaran, seperti di Kawai, ada tradisi yang harus dijalani, yakni membawa kucuik (rantang berisi aneka kue tradisional seperti kambang loyang, pinyaram dan lapek katan) ke rumah mertua, bako dan mamak.
Dari rumah ke rumah kami berjalan ke tampat yang hendak dituju. Yang membuat poniang (pening), kami wajib makan di tiap rumah yang dikunjungi. Tidak bisa tidak. Kalau dihitung dalam sehari lima kali kami makan. Besar perut ini dibuatnya.
Malamnya saya berbisik kepada istri saya, tahun depan, Lebaran di Padang sajalah. Rasakan pula bagaimana nikmatnya Lebaran di Padang melihat anak-anak manambang. “Ya, awak belum juga pernah merasakan lebaran di Padang,” ujar istri saya. oEriandi

3 Responses to “Sekarang Saya Punya Kampung…”


  1. 1 Apak si Bintang http://ryantodj.wordpress.com/ Oktober 26, 2007 pukul 9:19 am

    Dek lai mah, lah punyo kampuang….Ba a rasonyo, lai lamak?? kakanyangan namuah paruik tu dek makan taruih tiok singgah ka rumah orang…ha..3x
    Bilo punyo Eriandi Yunior??? atau Rini Yunior???

  2. 2 Apak si Bintang http://ryantodj.wordpress.com/ Oktober 26, 2007 pukul 9:20 am

    Dek lai mah lah punyo kampuang?? Ba a, lai lamak?? Kakanyangan namuah paruih tu malatuih dek e, makan taruih tiok singgah…ha..3x
    Bilo punyo Eriandi Yunior atau Rini Yunior???

  3. 3 alfahri Desember 21, 2007 pukul 8:08 am

    ondeh mandeh ondeh-ondeh maaaaaaaak! yo sabana sanang bana, mandanga dan mambaco pangakuan bung Eriandi, bahwa inyo lapunyo kampuang yakni Jorong Kawai. untuk itu wak aja Bung Eriandi untuak basamo-samo mambangun kampuang awak kedepanyo. satujukan Bung Eriandi?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Tangkelek

Oktober 2007
S S R K J S M
« Agu   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Masukkan alamat email Anda

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya

Bagian

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

Harian Singgalang

tweet saya


%d blogger menyukai ini: