Puasalah Berpolitik!

Terhenyak saya membaca berita Megawati merasa dizalimi. Gara-garanya, ia dilarang pergi ke Mentawai dengan menggunakan helikopter milik TNI AU. Rencananya mantan Presiden RI itu bersama rombongan memberikan bantuan untuk korban gempa.

Karena tidak bisa ke Mentawai, Mega dan rombongan terpaksa mengalihkan bantuan ke warga Painan, di Kabupaten Pesisir Selatan.

Larangan menggunakan heli TNI AU itu adalah kali kedua dialami putri sulung Bung Karno itu. Sebelumnya, ketika Mega hendak mengunjungi korban gempa dan tsunami di Nias tahun 2005. Kala itu ia juga dilarang oleh Mabes TNI.

Pihak Mabes TNI sendiri menepis anggapan larangan itu terkait dengan panglima. Seandainya bantuan itu disalurkan melalui Depsos, tentu tidak muncul masalah. Diakui, mantan presiden memiliki hak menggunakan fasilitas milik TNI, namun harus tetap memenuhi protap.

TNI khawatir jadi bahan politisasi, kalau ketua umum partai yang menggunakan helikopter. TNI nanti dianggap memihak salah satu partai atau kandidat presiden.

Kalau ditilik pihak TNI ada benarnya juga. Megawati benar juga. Sudah dua kali TNI melarangnya menggunakan helikopter. Kalau di posisinya, tentu saya menduga-duga ada upaya penjegalan.

Tapi, saya mengaharapkan, lupakan saja semua itu. Hilangkan rasa curiga mencurigai satu dengan yang lain. Tidak ada yang benar dan tidak ada pula yang salah.

Saya berharapa, apa yang terjadi itu harus dengan sabar hati menyikapinya. Apalagi sekarang ini bulan ramadan. Tidak ada gunanya bicara ini itu tanpa jelas tujuannya yang bisa menodai puasa.

Bapak-bapak dan ibu-ibu elit politik. Masyarakat sudah jenuh dengan intrik politik, bicara politik dan semua yang berbau politik. Tidakkah kalian sadar, bahwasannya, ribuan rakyat Indonesia jadi korban bencana. Ribuan rumah mereka hancur, sekolah yang rusak parah. Tidak selayaknyalah dalam kondisi seperti ini anda-anda bicara politik.

Lihat masyarakat di Mentawai sana. Mereka hidup di tenda-tenda. Tidak bosan-bosannya kabar memberitakan kalau mereka hidup di bawah bayang-bayang bencana. Siang turun malam naik lagi ke bukit. Para pengungsi berjumlah ribuan orang ternacam penyakit. Beragam penyakit mulai menyerang. Bahkan penyakit itu mulai merenggut korban jiwa.

Kondisi itu terjadi di Sikakap, Kecamatan Pagai Utara Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumbar. Sebagian besar korban gempa bumi di desa itu terserang penyakit kulit, diare dan infeksi saluran pernapasan atas (ispa) sehingga dua balita meninggal dunia. Selain itu, persedian logisitik juga semakin menipis.

Kalau hujan sudah turun. Keadaan mereka lebih menyedihkan. Tenda plastik yang mereka gunakan bocor. Sudahlah tidur berhimpit-himpitan, hujan, bayi merengek, semuanya jadi satu.

Belum lagi yang ada di Lunang Silaut, Pesisir Selatan. Rumah yang mereka bangun dengan susah payah, bertahun-tahun baru bisa membangun istana kecil, dalam sekejap, gempa menghancurkan semuanya. Tidak ada yang bersisa. Tinggallah kesedihan yang terbawa.

Itu baru gempa yang sudah terjadi. Saat ini, masyarakat di pesisir pantai hidup di bawah bayang-bayang ketakutan. Gempa susulan masih terus saja terjadi. Baru saja menghirup nafas dari ketakutan, gempa menggoyang. Bangunan bergetar serasa akan runtuh. Yang bekerja di lantai dua terbang hambur. Terbayang oleh mereka musibah yang bakal dialami jika masih bertahan.

Bapak dan ibu elit politik. Di bulan puasa ini janganlah semakin menyakitkan hati rakyat dengan ucapan yang tidak-tidak. Tidak ada gunanya anda berbicara politik seperti sekarang ini, semakin menambah kesedihan rakyat. Rakyat seperti tidak dianggap lagi di negara Republik Indonesia yang tercinta. Rakyat hanya pelengkap dari susunan tata negara. Negara seperti anda elit politik saja yang punya. Seenak saja mengatur, siapa yang mau jadi presiden, bapak ini siap jadi presiden, ibu ini didukung untuk menjadi presiden.

Belum selesai konflik di kalangan atas, politikus lokal pun ikut-ikut pula bersuara memperkeruh keadaan. Biarlah mereka yang diatas itu saling menjegal, sementara kita yang ada di sumbar ini berpolirik kerakyaratan. Walau pun kita berbeda bendara, namun berjuang bersama-sama untuk keperntingan rakyat.

Tidak adakah calon pemimpin di negara ini yang berpihak kepada rakyat. Yang tidak hanya berbicara politik, tetapi peduli kepada masyarakatnya. Para Elite Politik kita, Tiada lagi kata malu, tiada lagi harga diri, tiada lagi mikirin rakyat yang dulu dijanjikannya dengan janji yang muluk-muluk. yang ada dipikiran mereka adalah Bagaimana aku bisa hidup.

Sudah saatnya para elit politik harus menunjukan keseriusan, komitmen tinggi dan keberpihakan pada rakyat. Agar perubahan politik yang terjadi secara langsung dapat berpengaruh positif pada perbaikan kesejahteraan rakyat, bukan hanya pergantian kekuasaan politik di tingkat elit.

Soal helikopter itu hanya soal kecil. Dewasalah dan bersabarlah. Di bulan penuh hikmah ini, rajinlah beribadah. Berpikirlah untuk rakyat. Banyak dari mereka yang tertimpa bencana yang perlu dibantu. Hilangkan perbedaan, kita semua sama, Rakyat Indonesia.

0 Responses to “Puasalah Berpolitik!”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Tangkelek

Oktober 2007
S S R K J S M
« Agu   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Masukkan alamat email Anda

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya

Bagian

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

Harian Singgalang

tweet saya


%d blogger menyukai ini: