Pendidikan Murah

Pendidikan di zaman seperti ini seperti menjadi barang yang mahal. Mau sekolah, harus bayar setinggi langit. Mencekik urat leher rasanya. Kalau tidak jangan harap bisa bersekolah seperti yang lain. Dalam kasus seperti ini, uang lah yang berbicara.
Kejadian seperti itu, tidak hanya terjadi di tingkat SD, SMP, SMA atau perguruan tinggi. Bahkan di tingkat taman kanak-kanak (TK) saja, di usia dini untuk masuk sekolah, uang sekolah tidak kalah dengan anak yang ingin masuk SD, SMP, SMA atau perguruan tinggi.
Dari awal tampaknya sekolah dijadikan tempat mencari keuntungan. Lembaga profit. Tidak hanya di swasta di sekolah negeri pun juga demikian. Sama saja alias tidak ada bedanya sama sekali. Bahkan kalau dihitung-hitung, bayar uang sekolah di swasta jauh lebih murah di bandingkan negeri.
Indonesia adalah negeri yang unik. Tidak terkecuali di bidang pendidikannya. Perguruan tinggi negeri saja menerapkan standar ganda untuk masuk ke sana. Anda bisa kuliah di sana kalau otaknya encer atau bisa kuliah di sana jika punya uang banyak.
Mereka terpaksa putus sekolah karena berbagai alasan, terutama karena keterbatasan kemampuan ekonomi keluarga. Keterbatasan ini bukan hanya berakibat pada persoalan keberlangsungan sekolah pada anak-anak itu, tetapi lebih jauh kemiskinan telah mengakibatkan tekanan pada gizi yang buruk dan kesehatan. Mereka yang berada dalam strata seperti ini tidak memiliki kepastian dan keleluasaan.
Tekanan ekonomi dan kemiskinan yang melanda sejumlah besar penduduk telah mengakibatkan munculnya berbagai persoalan yang sepertinya tak pernah selesai. Kemiskinan bukan hanya berpengaruh langsung terhadap rendahnya kualitas kesehatan dan rendahnya angka harapan hidup, tetapi juga terhadap rendahnya tingkat pendidikan. Padahal, seperti diketahui rendahnya tingkat kesehatan dan pendidikan akan berpengaruh langsung terhadap kualitas sumber daya yang pada akhirnya bermuara pada rendahnya produktivitas. Semakin miskin, semakin tidak berdaya. Maka semakin
banyak orang miskin, bangsa ini semakin tidak berdaya. Pada akhirnya kekukuhan negara juga diragukan.
Jika kenyataannya semakin banyak anak-anak tidak memiliki kesempatan untuk sekolah dengan semestinya, maka mudah diduga ada yang salah pada negara dan pemerintahnya. Dalam realitas seringkali dinyatakan adanya pendidikan gratis. Tetapi, mana ada sekolah
yang gratis ? Karena kenyataan, buku, seragam, sepatu, biaya-biaya non-SPP tetap saja harus ada. Jika jarak tempuh antara rumah dengan sekolah cukup jauh, maka harus ada biaya transportasi. Karena biaya sekolah bukan hanya persoalan SPP yang digratiskan, maka mereka yang berada dalam kemiskinan tetap tak mampu menjangkau. Artinya, sumber dari tingginya angka putus sekolah tetap pada kemiskinan.
Dalam dua tahun terakhir memang pendidikan maju sedikit. Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) di setiap jenjang pendidikan dalam tiga tahun bela­kang, yang menunjukan peningkatan kuantitas dan kualitas pendidikan yang sangat
signifikan. Pada tingkat SD/MI/Paket A, Sumatra Barat mengalami peningkatan nilai APK, rata-rata sebesar 2 persen per tahun, dimana tahun 2005, APK Sumbar sebesar 112,46 persen, tahun 2006, 113,37 persen dan tahun 2007 telah mencapai 114,87 persen.
Di tingkat SMP/MTS/Paket B, APK Sumatra Barat mencapai 89,78 persen. Sedangkan untuk tingkat SMU/Paket C, APK sebesar 66,21 persen. Peningkatan nilai APK, juga diiringi dengan peningkatan nilai APM, dengan nilai peningkatan lebih dari 2 persen per
tahun. Pada tingkat SD sederajat, APM Sumbar tahun 2005 (96,81 persen), tahun 2006 (97,61 persen) dan tahun 2007 mampu mencapai 99,12 persen. Tingkat SMP sederajat, tahun 2005 (69,44 persen), tahun 2006 (70,62 persen) dan tahun 2007 (72,63 persen). Sedangkan untuk APM sekolah menengah, mencapai 50,63 persen.
Ibu Negara Ani Yudhoyono saat menjadi narasumber pada Konferensi Regional UNESCO mengenai Upaya Pemberantasan Buta Huruf Sedunia (“UNESCO Regional Conferences in Support of Global Literacy”), di Beijing, China, memaparkan upaya dan keberhasilan Indonesia mempercepat pemberantasan buta aksara di Indonesia.
Ia mengatakan, Indonesia sebagai negara besar memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan jumlah penduduk sekitar 245 juta jiwa, yang sebagian besar atau 43 juta diantaranya anak usia 4-15 tahun.
Pemberantasan buta aksara di Indonesia berlangsung sejak tahun 1945, yang ketika itu tingkat buta aksara mencapai 97 persen dari jumlah penduduk.
Menurut dia, salah satu pendorong berhasilnya menurunkan angka buta aksara adalah Program Wajib Belajar 9 Tahun yang merupakan Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2006, dan juga menjadi “Tahun Mengatasi Buta Aksara” di tanah air.
Yang perlu difikirkan sekarang, bagaimana meningkatkan taraf hidup masyarakat untuk kemajuan dunia pendidikan. Pendidikan sangat penting. Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini yang sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah.  Unuk diketahui, jumlah penduduk miskin di Sumbar sekitar 12 persen dari 4,45 juta penduduk di Sumbar. Masyarakat miskin rindu akan pendidikan yang murah.

4 Responses to “Pendidikan Murah”


  1. 1 9uBr4K5 Agustus 26, 2007 pukul 3:29 pm

    pemerintah berada antara serius & tdk, hal tsb dapat dilihat dari alokasi dana APBN untuk pendidikan yg belum sesuai harapan banyak pihak.
    😀

    Salam kenal…
    😀

    Peace, Love `N Harmony !

  2. 2 rbaryans Agustus 27, 2007 pukul 1:48 pm

    Mau pintar tapi murah…???
    Zaman kapitalis begini…???
    Gak mimpi tuh mas….

  3. 3 pecollege Agustus 28, 2007 pukul 7:02 am

    Faktor utama pendidikan mahal adalah komponen material didalamnya mungkin gaji pengajar juga berpengaruh. Khusus soal materi pendidikan saya terlibat di project otak sebagai project community yang menyediakan e-book gratis dan e-book ditulis secara ramai2x oleh teman2x kita di IT. cek project otak http://otak.csharpindonesia.net

    Selain itu saya juga membantu portal PE College untuk menyediakan tutorial dalam bentuk video yang membahas mengenai pemrograman dan IT/networking. bisa di cek di PE College, http://www.pecollege.net

  4. 4 ali September 1, 2007 pukul 6:47 am

    Wah…entah sama siapa lagi kita harus ngomong biar pemerintah ini pro terhadap peningkatan kualitas pendidikan dengan biaya yg terjangkau. kayaknya para aparat pemerintah kita itu dulunya bisa duduk diposisi jabatannya itu karena kebetulan aja, memang mereka berpendidikan tapi yang lebih berperan mereka menduduki jabatannya adalah faktor kebetulan. Entah kebetulan pas test dapat bocoran jawaban, atau kebetulan deket dengan si anu, bahkan mungkin waktu koreksi jawaban tes kebetulan petugasnya lagi ngantuk jadi lulus dech.

    >gubrak. alokasi APBN bukan “belum sesuai dengan harapan banyak pihak” tapi sangat tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan amanat UUD


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Tangkelek

Agustus 2007
S S R K J S M
« Jul   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Masukkan alamat email Anda

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya

Bagian

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

Harian Singgalang

tweet saya


%d blogger menyukai ini: