Kalau Saya jadi Presiden

Kalau saja saya yang menjadi Presiden Republik Indonesia ini, hal pertama yang saya lakukan adalah mengadakan rapat kabinet. Lalu rapat dengan anggota DPR. Dalam dua rapat penting itu, saya akan bertanya masih perlukah kita mengibarkan Bendera Merah Putih pada setip HUT RI?Rasanya kita belum merdeka. Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 lalu tidak bermakna. Kita masih dijajah. Yang menjadi penjajah, kesom­bongan sebagai rakyat Indonesia. Kita terlalu bangga dengan kemerdekaan, padahal di balik itu kita masih dijajah.Demokrasi membuat rakyat berdemo. Sebenarnya tidak perlu ada demokrasi di Indonesia. Karena, rakyat Indonesia ini pada dasarn­ya saling menyayangi dan menghargai. Begitulah pelajaran yang saya peroleh di sekolah dasar dulu pada mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila. Politik jadi alat kekuasaan dengan nama demokra­si. Rakyat Indonesia diatur politik.Rakyat Indonesia masih miskin. Di pelosok-pelosok masih belum tersentuh pembangunan. Data Badan Pusat Statistik 2006, jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2006 sebesar 39,05 juta (17,75 persen). Dibandingkan  dengan penduduk miskin pada Februari 2005 yang berjumlah 35,10 juta (15,97 persen), berarti jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. Pada bulan Maret 2006, sebagian besar (63,41 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan.Peranan makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar diban­dingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan).Mau berjualan kaki lima tidak merdeka karena digusur. Harus ngintip-ngintip dulu baru sebelum jualan. Kalau ada razia, ter­paksa kabur. Main kucing-kucingan dengan bangsa sendiri. Solusi untuk tempat berjualan tidak ada. Kalau pun ada, itu tidak berpi­hak kepada rakyat kecil. Pembangunan plaza dan mall digalakkan. Sementara pedagang kaki lima jauh dari namanya kemerdekaan.Saya lalu berfikir ketika menjadi presiden, dengan membubarkan seluruh instansi pemerintah. Tidak ada lagi pegawai negeri sipil mulai dari pejabat tinggi hingga pengawai kelurahan. Kenapa?Sudah bosan saya mendengar, membaca dan melihat korupsi di tanah air tercinta ini. Hampir tiap hari korupsi terjadi di sana. Mulai dari Aceh hingga Papua. Sudah sejauh mata memandang. Kalau tidak ada korupsi, Indonesia menjadi tenang dan damai.PNS saya jadikan petani, peternak dan nelayan. Mereka bekerja di sawah dan di laut. Gedung-gedung pemerintah saya robohnan dan di sana saya cetak sawah baru. Hasilnya, tentu luar biasa. Kita menjadi negara swasembada pangan seperti dulu. Tidak perlu lagi kita mengimpor beras dari negara lain. Malah sebaliknya, kita yang mengekspor kepada mereka.Fikirkan, rakyat miskin ini setiap tahun selalu bertambah. Lapan­gan kerja sempit. Mau bekerja harus ada relasi. Buka lapangan kerja atau usaha harus punya modal besar. Pinjam ke bank harus lihat-lihat dulu. Kalau pedagang kecil dipersulit, sementara yang besar gampang sekali. Namun kenyataannya, kredit macet paling banyak dilakukan pedagang besar. Pedagang kecil belum merdeka di negara sendiri. Padahal pedagang kecil ini, merupakan pribumi asli Indonesia. Anak sekolah juga belum merdeka. Mau sekolah harus berduit. Banyak anak petani miskin, nelayan, tukang sapu yang tidak berse­kolah. Harus pinjam uang ke sana-kemari untuk menyekolahkan anak. Dari SD, SMP, SMA, sampai perguruan tinggi. Semuanya butuh biaya besar. Beruntunglah bagi yang berduit. Mau sekolah di mana, ting­gal tunjuk. Uang tidak jadi persoalan. Sekolah murah tidak ada. Kita berkiblat kepada kapitalis. Yang berduit saja yang mendapat­kan pendidikan layak. Kita belum merdeka. Seharusnya, 62 tahun usia Indonesia, dengan kekayaan melimpah, anak-anak Indonesia tidak perlu lagi membayar uang sekolah. Sekolah harus gratis.Seperti cerita bapak saya dahulu. Kalau di zaman Belanda dulu, yang sekolah itu kaum priyayi, orang berduit dekat dengan penja­jah. Kalau tidak, sekolah hanya mimpi.Tentara dan polisi yang seharusnya berpihak kepada rakyat, jauh dari harapan. Rakyat dikorbankan, ditembak dan dibunuh. Lihat kasus Pasaruan, demi kepentingan perekonomian segelintir orang, rakyat ditembak dan terbunuh. Belum usai air mata di Pasuruan, di Solok, Man Robert yang jadi korban keberingasan tentara.Kinerja polisi masih jauh dari harapan. Pengusutan terhadap pelaku pembunuhan pahlawan reformasi atau yang terkenal dengan Tragedi Semanggi sampai sekarang masih kabur.Kenapa mereka tidak memihak kepada rakyat. Bela mereka yang menjadi korban kesewenang-wenangan negara lain. Banyak tersiar kabar TKI yang diperkosa, dianiaya, dibunuh. Kita dijajah negara lain. Amerika dengan makanannya, Jepang dengan produknya, Cina dengan industrinya, Auatralia dengan intervensinya, Malaysia dan Singapura mulai mengintip. Andaikata saya seorang presiden. Indonesia masih merdeka?      

0 Responses to “Kalau Saya jadi Presiden”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Tangkelek

Agustus 2007
S S R K J S M
« Jul   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Masukkan alamat email Anda

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya

Bagian

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

Harian Singgalang

tweet saya


%d blogger menyukai ini: