SITF 2007 di Medan, Menjual Sumbar ke Mancanegara

MEDAN – Sumatra Internasional Travel Fair 2007 kembali digelar di Medan, 8-9 Juni 2007. Ajang ini menjadi media bagi Dinas Pariwisata Sumbar menjual Ranah Minang ke mancanegara.Pulau Sumatra begitu menggairahkan. Pulau Sumatra merupakan wilayah yang sangat menarik untuk dikunjungi wisatawan. Sumatra memiliki pegunungan, gunung berapi dan hutan yang menjadi surga untuk wisata petualang. Kondisi wilayah yang natural ini semakin menarik karena masyarakatnya yang ramah tamah.

Tidak hanya Bali, Sumatra juga banyak memiliki objek wisata yang berkelas. Tidak salah memang, kalau salah satu provinsi di pulau Sumatra yakni Sumatra Barat masuk dalam lima daerah tujuan wisata di samping Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata, I Gusti Putu Laksaguna ketika membuka Sumatra International Travel Fair (SITF) 2007 di Balai Raya Hotel Tiara, Medan, Sabtu (9/6) mengatakan, ada beberapa kriteria dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menetapkan kelima provinsi itu sebagai daerah tujuan pariwisata.

Yakni, dukungan dari pemerintah daerah setempat yang menempatkan pariwisata sebagai sektor prioritas yang dimunculkan dalam APBD. Selain itu banyaknya potensi wisata yang dimiliki masing-masing daerah. Kemudian aksesiblitas daerah wisata dan dukungan sarana dan prasarana.

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menargetkan jumlah wisatawan sebanyak 6 juta orang untuk tahun ini. “Angka itu ditingkatkan dari jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia pada tahun 2006 yang hanya 4,8 juta orang,” kata Putu Laksana.

Putu Laksaguna mengakui untuk mempromosikan Indonesia masih sangat minim anggaran yang tersedia. Tahun 2007 ini saja, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata hanya mendapatkan anggaran sebesar Rp 900 milyar, termasuk biaya promosi sekitar Rp 100 milyar.

Ia berharap, pemerintah dan industri periwisata Indonesia harus bekerja lebih keras, kreatif, penuh improvisasi dan agresif dalam melakukan promosi untuk menjelaskan bahwa Indonesia aman dan nyaman untuk dikunjungi.

Jumlah anggaran promosi ini jauh dibanding dengan Malaysia yang di tahun 2007 nilainya mencapai 80 juta dolar. “Kalau untuk Malaysia, anggaran kita ini hanya untuk memasang iklan di CNN saja,” katanya. Karenanya tidak mengherankan jika pendapatan Malaysia dari dunia kepariwisataan tahun 2006 mencapai 11 miliar dolar.

Di sisi lain, imej Indonesia dimata masyarakat dunia sempat jelek oleh berbagai hal yang terjadi sehingga membuat pemerintah dan pelaku pariwisata harus bekerja lebih keras. Sebenarnya menurut Putu, masyarakat dunia tidak akan terpengaruh dengan hal-hal tersebut selama kita bisa menjelaskan tindakan dan langkah-langkah yang sudah dilakukan.

Meriah

Sumatra International Travel Fair (SITF) 2007 yang digelar 8-10 Juni di Balai Raya Tiara Medan yang dikuti oleh 72 stan dari berbagai daerah di Sumatra dan mancanegara ini ramai dikunjungi masyarakat umum. Stan-stan ini menampilkan potensi-potensi wisata yang dimilikinya seperti stan Kabupaten Sergai yang menampilkan wisata bahari. Demikian juga stan Nias yang menonjolkan potensi lautnya.

Selain sebagai ajang pameran potensi pariwisata dari seluruh propinsi di Pulau Sumatra juga menjadi tempat kontak bisnis bagi pelaku wisata Sumatra dengan mitranya dari mancanegara. Setidaknya 130 peserta dari 17 negara dipastikan akan hadir dalam iven ini, baik buyers maupun tour operator. Jumlah peserta ini meningkat dari tahun sebelumnya, khususnya peserta dari Eropa.

Peserta mancanegara yang ikut SITF 2007 adalah Amerika Serikat, Hungaria, Slovakia, Belanda, Belgia, Kamboja, Malaysia, Australia, India, Singapura, Thailand, Jerman, Filipina, Meksiko, Nepal, Cina, Jepang dan Vietnam. Sementara peserta Indonesia adalah seluruh propinsi di Sumatra: NAD, Sumut, Riau, Kepri, Jambi, Sumbar, Babel, Sumsel, Bengkulu dan Lampung. Propinsi Bali juga turut ambil bagian dalam event ini. Peserta dari Sumut sendiri diikuti oleh beberapa kabupaten/kota seperti Serdang Bedagai, Medan, Sibolga, Nias dan Tanjung Balai.

“Sumatra International Travel Fair 2007 digelar untuk mengomunikasikan keadaan Sumatra sebagai destinasi wisata yang aman, bebas terorisme, dan masalah kesehatan seperti flu burung, bencana alam, dan sebagainya,” kata Henry Hutabarat Kepala Badan Wisata Daerah (Bawisda) Sumut.

Tahun ini topik yang diusung adalah Tropical Adventure & Multicultural (wisata alam dan multi budaya) dengan branding Sumatra yang memfokuskan pada wisata petualangan di alam bebas.

“Kita mempromosikan tujuan wisata alam yang ada di Pulau Sumatra karena sangat menarik dan beragam. Mulai dari laut hingga pegunungan. Selain itu juga mengangkat keberagaman budaya yang ada di Sumatera. Karena Indonesia bukan hanya Bali,” kata Henry. Sementara icon untuk SITF adalah Harimau Sumatra, hewan asli Sumatra yang kini hampir punah.

Menurut Henry kegiatan promosi yang digelar setiap tahun ini terbukti membuahkan hasil dilihat dari jumlah kunjungan wisman asal Eropa ke Sumut yang semakin meningkat. Tahun 2006 jumlah wisman Eropa yang berkunjung ke Sumut 13.834 orang meningkat dibanding tahun 2005 yang hanya 11.532 orang. Namun angka ini masih kecil, hanya 2,65 persen dari total jumlah kunjungan wisman Eropa ke Indonesia.

Melalui ajang ini diharapkan para pelaku pariwisata di Sumatra dapat membangun kerjasama untuk membuat produk layak jual yang sudah terpaket untuk ditawarkan kepada buyers. Misalnya paket surfing Nias (Sumut), Mentawai Siberut (Sumbar), diving Pulau Rubiah (NAD), atau Gajah di Tangkahan (Sumut), dan Teso Nilo (Jambi).

Pada awalnya kegiatan ini masih sekadar mempromosikan potensi wisata Sumut (North Sumatra International Travel Fair) semata, namun kemudian melebar menjadi Sumatra Bagian Utara (Northern Sumatera International Travel Fair). Sejak tahun 2006, ivent ini berkembang dengan melibatkan hampir semua provinsi di Sumatra dan tahun ini seluruh provinsi yang ada di Pulau Sumatra akhirnya ikut.

“Sumbar berminat untuk menjadi penyelenggara kegiatan ini tahun depan,” kata Henry. Menurutnya memang sudah saatnya kegiatan promosi kepariwisataan ini digilir. Dengan begitu akan semakin memacu dunia kepariwisataan di masing-masing provinsi.

Diakuinya mempromosikan Pulau Sumatra lebih menarik dan mudah dibanding jika mempromosikan perwilayah. Apalagi Sumatera memiliki kekhasan tersendiri dibanding pulau-pulau lain di Indonesia.

Asisten II Setdaprov Sumbar Bidang Pembangunan Surya Dharma Sabirin mengatakan, dengan digelarnya SITF tahun depan di Sumbar, menjadi ajang promosi berkelanjutan bagi pariwisata di Sumatra terutama di Sumbar.

“Kami mengucapkan terimakasih bagi Sumut yang memberikan dukungan kepada kami untuk menyelanggaran ajang serupa di Sumbar,” katanya.

Ambisi pemerintah daerah untuk menjadikan Sumatra Barat sebagai daerah tujuan wisata yang utama di Indonesia adalah mimpi sejak puluhan tahun silam. Pembangunan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) yang terletak 29 kilometer di utara kota Padang, merupakan bagian dari mimpi tersebut. Bandara yang baru diresmikan penggunaannya Juli 2005 lalu, sejatinya sudah direncanakan sejak 20 tahun yang lalu.

Di tempat terpisah, Cahyo Pramono, humas SITF 2007 menyatakan, setidaknya ada tiga agenda yang digelar dalam SITF ini yakni pameran, bisnis wisata forum dan kontak bisnis. Bisnis wisata forum dibagi dua sesi. Sesi pertama membicarakan pengembangan tujuan wisata baru dan sesi kedua bagaimana membangun hotel hemat (biaya murah).

SITF 2007 sengaja mengambil tema Tropical Adventure & Multicultural (wisata alam dan multi budaya) untuk menegaskan posisi Pulau Sumatera dalam agenda promosi pariwisata dunia. Keberagaman destinasi wisata di Sumatera kalau dikemas baik sangat menarik bagi wisman mancanegara. “Kita punya wisata air, dari laut, danau dan sungai. Juga hutan tropis yang asyik di tracking termasuk gunung-gunung Sumatera,” ujar Cahyo kembali.

Selain itu kegiatan ini juga menjadi momen bagi para pelaku kepariwisataan di Sumatera baik itu pengusaha maupun pejabat untuk berkonsolidasi mengembangkan dan memajukan potensi wisata yang ada.

Cahyo berharap kegiatan tahunan ini akan semakin memantapkan posisi Sumatera sebagai tujuan wisata dunia. Juga memacu masyarakat untuk makin memahami kepariwisataan misalnya dengan menjaga kebersihan dan berperilaku yang baik.eriandi

 

 

 

 

2 Responses to “SITF 2007 di Medan, Menjual Sumbar ke Mancanegara”


  1. 1 Fadli Juli 30, 2007 pukul 1:25 pm

    Mohon dukungannya untuk project pendokumentasian secara online lirik-lirik lagu minang periode 1950-1995
    Info selanjutnya silahkan klik link berikut ini
    http://laguminanglamo.wordpress.com/about/
    dan
    http://laguminanglamo.wordpress.com/undangan-berkontribusi/

  2. 2 Nofrins Napilus Oktober 14, 2007 pukul 3:15 am

    Utk SITF 2007, mungkin kita dari http://www.kemilausumatera.com bisa ikut bantu meramaikan suasana. Misalnya dengan membuat Lomba Foto Pariwisata Sumatera.

    Salam,
    Nofrins Napilus
    Founder of:
    http://www.kemilausumatera.com
    http://www.west-sumatra.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Tangkelek

Juni 2007
S S R K J S M
    Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Masukkan alamat email Anda

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya

Bagian

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

Harian Singgalang

tweet saya


%d blogger menyukai ini: