Gemerlapnya Gadis Bispak di Padang

PADANG–Gemerlap kehidupan malam kota metropolitan tidak pernah lepas dari geliat para gadis malam, begitu juga di Kota Padang. Tidak hanya pelacur yang setiap malam menjajakan dagangannya pada hidung belang yang kesepian, tapi juga cewek muda yang hanya mencari kesenangan sesaat atau having fun. Para gadis belia itu lebih dikenal sebagai cewek bispak (bisa dipakai). Asal suka sama suka, apapun mau mereka lakukan. Mulai dari sekedar kencan biasa hingga bersedia diajak bermalam di kamar hotel. Dan mereka merasa kehidupan seperti itu ‘gaul’. Tapi pada umumnya cewek bispak itu anti dengan hubungan yang mengikat. Mereka lebih suka hubungan yang bebas tanpa batas. “Gue nggak suka klo hidup gue diatur-atur. Gue memilih bebas, sehingga gue bisa lakuin apa aja,” ujar Tari, 19, (nama samaran) kepada Singgalang beberapa hari yang lalu di sebuah kafe yang ada di Kota Padang. Tari yang saat ini tengah mengikuti pendidikan di sebuah pergur­uan tinggi swasta (PTS) di Kota Padang, mengaku telah menjalani kehidupan seperti itu semenjak kelas dua SMA. Dia merasa kehidu­pan liar malam itu, sudah menjadi bagian dari dirinya. “Minimal tiga kali dalam seminggu, gue keluar bersama anak-anak (teman-Red). Biasanya kita mangkal di pub dan diskotek hingga tengah malam. Setelah itu, klo nggak ada kencan, ya kita non­gkrong aja di kafe hingga pagi,” sebutnya. Cewek bispak yang mayoritas berstatus siswi atau mahasiswi itu, biasanya identik dengan cewek matre. Mereka tidak mau sembarangan berkencan dengan pria yang mendekatinya. Disamping menjaga image, mereka juga mengharapkan hal yang setimpal dengan apa yang diber­ikannya. Tari tidak menampik hal itu dan dia sendiri mengaku dirinya cewek matre. “Gue memang suka berkencan dengan cowok kaya, meski dia sudah memiliki istri sekalipun. Kalau dia benar sayang sama gue, tentu dia akan bersedia memenuhi permintaan gue,” katanya. Sebagai cewek gaul, tentu Tari sangat peduli dengan penampi­lannya. Apalagi di Kota Padang ini dia berstatus sebagai seorang anak kost. Untuk membiayai kehidupan glamour-nya, Tari tidak bisa hanya berharap dari kiriman orang tuanya. “Memang, gue nggak akan selamanya menjalani kehidupan seperti ini. Tapi untuk saat sekarang, gue belum bisa meninggalkan kese­nangan malam ini. Gue masih ingin menikmati masa muda yang katan­ya hanya sekali itu,” ungkap Tari. Tari sudah sering memikirkan untuk menjalani kehidupan yang normal seperti gadis lainnya. Karena dia paling takut seandainya keluarganya mengetahui perbuatannya selama ini. Sudah sejak SMA gue berpisah dengan orang tua gue yang berada di Payakumbuh. Selama itu juga gue berusaha untuk menutup-nutupi kehidupan gue disini,” katanya lagi. Salah seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Padang sebut saja Mutiara, 19, mengaku sampai saat ini tidak memiliki pacar. Ia merasa kalau sudah punya pacar, hidupnya akan diatur. Ia ingin bebas. Kepada Singgalang ia bercerita, sejak mengenal Kota Padang ini, sudah banyak lelaki yang mencoba mendekati. Namun, tidak satupun yang melekat di hati. Entah mengapa ia selalu rindu akan kebeba­san. Ia yang mengaku dari Pekanbaru ini lebih suka mencari kese­nangan. “Saya punya teman pria yang bekerja di kawasan Pasar Raya Padang. Ia orangnya baik dan tidak pernah menyakiti perasaan,” kata Mutiara. Bersama pria ini (sebut saja nama Totok), ia sudah berkali-kali pergi ke suatu tempat untuk mencari kesenangan. Hal ini sebatas suka sama suka. Kenikmatan duniawi sudah direguk. Namun tidak ada ikatan. Terkadang di saat ia butuh, Mutiara menelpon Totok. Begitu juga sebaliknya. Kalau setuju, jadilah ia dan teman prianya itu pergi ke tempat yang sudah direncanakan hanya untuk bersenang-senang saja. “Antara umur saya dan dia terpaut jauh, sekitar 10 tahun. Pria itu dewasa sekali dan selalu membimbing saya jika menghadapi kesusahan,” katanya. Lain lagi cerita Dewi (nama samaran). Pengaruh dunia malam mem­buatnya berkelakuan seperti gaya Amrik atau america style. Malam ini pacar, besok tidak lagi. Teman-temannya sesama penikmat dunia malam juga berkelakuan yang sama. Kalau sudah pergi dugem (dunia gemerlap), ia pasti menyempatkan diri untuk berkenalan dengan sejumlah pria. Biasanya kalau ada satu pria yang disenangi, jadilah langsung check in di hotel. Biasanya ia pergi bersama temannya ke tempat hiburan yang dise­diakan oleh pengelola hotel. Setelah itu, ada saja pria yang menghampiri. Berawala dari menawarkan minuman saja. Lalu berlan­jut dengan perkenalan dan kemudian kalau sudah merasa akrab bisa langsung pesan kamar. “Tapi terkadang ada juga yang perlu pendekatan dengan saya. Kalau feeling saya dia itu orangnya baik, kemana diajak pasti mau,” katanya yang mengaku kos di kawasan Lubuk Buaya. Menurutnya, pergaulan seperti itu di zaman sekarang sudah wajar. Jangan munafik, siapa yang tidak ingin kesenangan. Hanya saja baginya, asal jangan kebablasan tidak mengapa.Rio/Eriandi/SM Ridha

0 Responses to “”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Tangkelek

Juni 2007
S S R K J S M
    Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Masukkan alamat email Anda

Bergabunglah dengan 299 pengikut lainnya

Bagian

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

Harian Singgalang

tweet saya


%d blogger menyukai ini: