29
Mar
09

Generasi Terakhir Kudo Baban Rajo Sampono

Lelaki tua itu berjalan menyuri jalan beraspal bersama kuda beban miliknya. Langkahnya pelan, sejalan dengan derap langkah kaki kuda yang dibimbingnya. Di punggung kudanya, bergantung beban dua karung kulit manis. Hasil ladang itu hendak dijual kepada seorang tauke yang ada di Balai Akad. Kebetulan hari itu Minggu (8/3) sedang ramai. Masyarakat di Pasar Akad, Kecamatan Tanjung Raya tengah hari balai. Banyak berjual beli di sana. Dan daerah ini yang tengah dituju lelaki tua tersebut untuk menjual kulit manis. Rajo Sampono, 75, warga Data, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, nama lelaki itu. Ia masih setia dengan kuda beban. Katanya, sudah 30 tahun kuda itu menemaninya.

“Kuda ini namanya Si Balang. Saya beli Rp800 dulunya. Sudah 25 tahun usianya. Waktu dibeli dulu masih berusia lima tahun,” kata lelaki tersebut. Dalam keseharian kuda tersebut hanya ditambatkan di sekitar pekarangan dan hanya memakan rumput semata. Si Balang tidak menyusahkan bagi dirinya. Hewan satu ini penurut dan banyak membantu dirinya. Saat ini kuda tersebut digunakan terutama satu kali dalam seminggu untuk pergi ke Balai Akad Kecamatan Tanjung Raya. Setiap pergi ke pasar tersebut Rajo Sampono biasanya membawa hasil-hasil seperti kayu, kulit manis, kopi dan lain-lain untuk dijual. Sedangkan pulang dari pasar, kuda tersebut membawa barang-barang belanja yang dibutuhkan keluarga Rajo Sampono. Secara umum kuda beban tersebut digunakan hanya untuk kepentingan pribadi semata. Selain untuk kepentingan pergi ke pasar, kuda tersebut juga digunakan untuk masuk dan keluar hutan membawa hasil-hasil untuk dikumpulkan di rumah yang kemudian dijual ke pasar. Masuk hutan menjadi rutinitas keseharian lelaki ini. Dari hutan itu lah dia hidup. Dari ladang dia makan. Roda perekonomiannya bergantung kepada dua hal tersebut. Banyak komoditi yang bisa dibawa dari ladang dan hutan. Karena banyaknya itu, perlu sarana transportasi untuk mengangkutnya. Kudalah yang menjadi pilihan. Untuk kondisi seperti ini keberadaan kuda tersebut dirasakan sangat membantu karena Rajo Sampono tidak perlu memikul hasil yang diperoleh dari hutan tersebut. Di sisi lain kendaraan seperi sepeda motor apalagi mobil tidak mungkin akan bisa masuk jauh ke dalam hutan. Pada awalnya Rajo Sampono menggunakan kuda sebagai alat transportasi tersebut lebih dikarenakan kondisi jalan di daerahnya yang sangat parah dan tidak mungkin dilewati kendaraan. “Kini, jalan sudah beraspal, bahkan sampai ke rumah saya. Namun, kuda beban ini tidak bisa saya tinggalkan,” ujar Rajo Sampono. Meski saat ini jalan di daerahnya telah lebih bagus dan bisa dilewati kendaraan, namun Rajo Sampono masih setia dan tidak berniat sedikitpun untuk menjual kuda itu dengan harga berapapun. Biarlah kuda tersebut mati dimakan usia saja. Beberapa keuntungan dirasakannya dengan keberadaan kuda tersebut seperti sehat berjalan kaki. Ia mengaku, dulunya banyak yang memiliki sarana transportasi tradisional seperti dirinya. Namun, karena pembangunan sudah merambah sampai ke tempat ia tinggal, transportasi jadi lancar. Dimana-mana jalan sudah beraspal. Pemilik kuda beban yang lain banyak yang memilih kuda Jepang alias sepeda motor. Kuda beban sudah berganti dengan mesin. Tinggallah ia seorang diri saja lagi yang memiliki kuda beban seperti itu. Tidak ada yang lain. “Banyak kenangan yang dirasakan dengan kuda ini. Paling utama kuda ini telah menghidupi saya, istri dan kelima anak saya. Bahkan, ada di antara anak saya telah menjadi guru bahasa Inggris di Bukittinggi,” kata Rajo Sampono.


0 Tanggapan ke “Generasi Terakhir Kudo Baban Rajo Sampono”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan




 

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Bagian

Blog Stats

  • 80,950 hits

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

RSS Detik.com

  • Denny Indrayana: BAI Apa Maksudnya Itu? Nggak Ada Itu
    Istilah berita acara interview (BAI) yang dilontarkan Polri dalam pemeriksaan dua media massa dipertanyakan kalangan pakar hukum. BAI jelas-jelas tidak ada dalam sistem hukum di Indonesia.
  • Rakyat Sudah Jenuh, SBY Harus Laksanakan Rekomendasi Tim 8
    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diminta melaksanakan secara hukum rekomendasi Tim 8. Sebab mayoritas harapan rakyat menghendaki presiden bersikap tegas. Rakyat sudah jenuh dengan berlarut-larutnya kasus Bibit-Chandra.
  • Gubernur Bali Ancam Laporkan ke Polisi
    Dirut RSUD Buleleng telah mengakui menjual vaksin anti rabies (VAR) kepada pasien. Gubernur Bali Made Mangku Pastika pun mengancam akan melaporkan ke polisi jika terjadi tindak pidana dalam kasus jual beli vaksin itu.
  • Denny Indrayana: Lebih Tepat Panggil KPK atau MK
    Pemanggilan dua media oleh Mabes Polri dinilai menimbulkan kesan kriminalisasi pers lebih kentara daripada upaya untuk menjerat Anggodo. Padahal seharusnya lebih tepat Polri meminta penjelasan dari KPK atau MK.