Mira buluri, mulai merambah sampai ke kampung-kampung. Rambut yang dulunya hitam, sekarang sudah jadi pirang. Tidak ada lagi peribahasa, bak mayang terurai. Peribahasa ini dulu dipakaikan kepada gadis-gaids yang memiliki rambut panjang, ikal berwarna hitam.
Konon, gadis yang memiliki rambut seperti itu selalu dipuja laki-laki. Tidak terbayangkan cantiknya seorang gadis kalau sudah memiliki rambut hitam panjang. Kalau bahasa bulenya beautiful. Betul-betul full cantiknya.
Bahkan terkadang, ada yang bilang, mahkota seorang perempuan berada di rambut. Di iklan sampo jaman dulu kerap dipakai istilah seperti ini untuk menarik hati wanita untuk membelinya
Tapi sekarang, katanya di abad serba digital, tidak ada lagi istilah rambut itu dengan mahkota wanita. Ramut hitam sudah tidak ada lagi berganti dengan pelangi, rupa-rupa warnanya. Ada yang hijau, merah, kuning, pink, daan beragam warna lainnya. Katanya rambut hitam sudah kuno, bergantilah dengan rambut warna biar hidup penuh gairah.
Dari yang kecil sampai amai-amai (emak-emak), sekarang banyak yang Mira buluri. Rajin ke salon, lihat model warna terbaru, potongan teranyar, kalau setuju, ingin meniru, maka diikutilah gaya itu. Pergi ke salon menjadi gaya hidup. Kuno rasanya kalau rambut tidak diwarna
Mira buluri bukanlah nama orang akan tetapi sebuah kependekan dari mirip rambut bule luar negeri. Mira buluri sampai ke kampung-kampung. Banyak bule lokal sekarang yang ditemukan. Mudah didapati. Pergi saja ke mal, pusat perbelanjaan, tempat gaul, akan didapati Mira buluri.
Teringat saya dulu semasa kecil. Rambut pirang sudah lama dikenal dan dilihat oleh orang awak. Tapi, itu biasanya terjadi pada anak-anak yang hobinya malala, anak-anak pasia.

padang media
Efek negatif kemajuan Da..mungkin kalau ndak ado tv, ndak ado handphone, ndak ado internet sarato pernak-pernik modernisasi yang lain, mira buluri ndak ka ado do Da..
tibo di bule, bule depok komah