“Situ ok, gue juga ok”, “Oelek Boeloe”, “Ngeselin” dan bermacam stiker terpampang di seluruh bagian mobil. Kalaulah ada tempat yan kosong di bodi mobil, disana pasti juga akan diisi stiker entah apa pula lagi tulisannya.
Bukan tanpa sengaja setiap angkot di Kota Padang memajang stiker di hampir setiap bagian mobil. Tujuannya satu, agar kelihatan nyentrik dan di anggap gaul.
Kalau sudah begitu, yang naik juga banyak. Harapannnya, aneka aksesoris yang menempel itu menjadi dayatarik bagi calon penumpang.
Memandang lalu lintas di Kota Padang, angkot berkeliaran seperti binatang liar. Sesuka mereka meliak-liuk di jalanan. Mau memepet pengendara lain, menerobos lampu merah, sudah bukan asing lagi bagi pengemudi angkot. Terkadang mereka seperti layaknya pembalap. Memacu kendaraannya kencang-kencang, begitu melihat ada orang berdiri di pinggir jalan, tiba-tiba berhenti mendadak. Langsung main tuduh kalau itu calon penumpang. Padahal orang yang berdiri di pingir jalan itu belum tentu penumpang. Mungkin saja, orang itu hendak menyeberang, menunggui warung (kalau PKL), mau kencing atau lainnya.
Di Padang jumlah angkot sudah mencapai ratusan, seperti tidak sebanding dengan pertumbuhan penumpan g. Jadilah jarak satu meter antara satu angkot dengan yang lainnya.
Keselamatan bagi mereka seperti nomor dua. Nyawa penumpang dan pengendara lainnya tidak dihiraukan. Alasan klasik, mengejar setoran. Kalaulah saya terlahir sebagai orang kaya, tentu saja akan saya buat sirkuit balap buat angkot-angkot ini. Bahkan kalau perlu, angkot – angkot ini dikirim ikut reli Paris-Dakkar.




Angkot bantuak inyo se nan bakureh menggunakan jalan. Padahal sado na lewat tu pai bakureh mah.
ini angkot seponsornya ngalah-ngalahin ananda mikola aja, sampek penuh full body cover githu
“Kalaulah saya terlahir sebagai orang kaya, tentu saja akan saya buat sirkuit balap buat angkot-angkot ini. Bahkan kalau perlu, angkot – angkot ini dikirim ikut reli Paris-Dakkar.”
setelah saya membaca bagian ini, saya ketawa wakakakakakak. kayaknya komentar itu sungguh mengena titik masalah itu dengan komedi