04
Jun
07

Fenomenan Gemerlapnya Kota Padang (2)

Gemerlapnya Gadis Bispak di Padang
PADANG–Gemerlap kehidupan malam kota metropolitan tidak pernah lepas dari geliat para gadis malam, begitu juga di Kota Padang. Tidak hanya pelacur yang setiap malam menjajakan dagangannya pada hidung belang yang kesepian, tapi juga cewek muda yang hanya mencari kesenangan sesaat atau having fun.
Para gadis belia itu lebih dikenal sebagai cewek bispak (bisa dipakai). Asal suka sama suka, apapun mau mereka lakukan. Mulai dari sekedar kencan biasa hingga bersedia diajak bermalam di kamar hotel. Dan mereka merasa kehidupan seperti itu ‘gaul’.
Tapi pada umumnya cewek bispak itu anti dengan hubungan yang mengikat. Mereka lebih suka hubungan yang bebas tanpa batas. “Gue nggak suka klo hidup gue diatur-atur. Gue memilih bebas, sehingga gue bisa lakuin apa aja,” ujar Tari, 19, (nama samaran) kepada Singgalang beberapa hari yang lalu di sebuah kafe yang ada di Kota Padang.
Tari yang saat ini tengah mengikuti pendidikan di sebuah pergur­uan tinggi swasta (PTS) di Kota Padang, mengaku telah menjalani kehidupan seperti itu semenjak kelas dua SMA. Dia merasa kehidu­pan liar malam itu, sudah menjadi bagian dari dirinya.
“Minimal tiga kali dalam seminggu, gue keluar bersama anak-anak (teman-Red). Biasanya kita mangkal di pub dan diskotek hingga tengah malam. Setelah itu, klo nggak ada kencan, ya kita non­gkrong aja di kafe hingga pagi,” sebutnya.
Cewek bispak yang mayoritas berstatus siswi atau mahasiswi itu, biasanya identik dengan cewek matre. Mereka tidak mau sembarangan berkencan dengan pria yang mendekatinya. Disamping menjaga image, mereka juga mengharapkan hal yang setimpal dengan apa yang diber­ikannya.
Tari tidak menampik hal itu dan dia sendiri mengaku dirinya cewek matre. “Gue memang suka berkencan dengan cowok kaya, meski dia sudah memiliki istri sekalipun. Kalau dia benar sayang sama gue, tentu dia akan bersedia memenuhi permintaan gue,” katanya.
Sebagai cewek gaul, tentu Tari sangat peduli dengan penampi­lannya. Apalagi di Kota Padang ini dia berstatus sebagai seorang anak kost. Untuk membiayai kehidupan glamour-nya, Tari tidak bisa hanya berharap dari kiriman orang tuanya.
“Memang, gue nggak akan selamanya menjalani kehidupan seperti ini. Tapi untuk saat sekarang, gue belum bisa meninggalkan kese­nangan malam ini. Gue masih ingin menikmati masa muda yang katan­ya hanya sekali itu,” ungkap Tari.
Tari sudah sering memikirkan untuk menjalani kehidupan yang normal seperti gadis lainnya. Karena dia paling takut seandainya keluarganya mengetahui perbuatannya selama ini.
Sudah sejak SMA gue berpisah dengan orang tua gue yang berada di Payakumbuh. Selama itu juga gue berusaha untuk menutup-nutupi kehidupan gue disini,” katanya lagi.
Salah seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Padang sebut saja Mutiara, 19, mengaku sampai saat ini tidak memiliki pacar. Ia merasa kalau sudah punya pacar, hidupnya akan diatur. Ia ingin bebas.
Kepada Singgalang ia bercerita, sejak mengenal Kota Padang ini, sudah banyak lelaki yang mencoba mendekati. Namun, tidak satupun yang melekat di hati. Entah mengapa ia selalu rindu akan kebeba­san. Ia yang mengaku dari Pekanbaru ini lebih suka mencari kese­nangan.
“Saya punya teman pria yang bekerja di kawasan Pasar Raya Padang. Ia orangnya baik dan tidak pernah menyakiti perasaan,” kata Mutiara.
Bersama pria ini (sebut saja nama Totok), ia sudah berkali-kali pergi ke suatu tempat untuk mencari kesenangan. Hal ini sebatas suka sama suka. Kenikmatan duniawi sudah direguk. Namun tidak ada ikatan.
Terkadang di saat ia butuh, Mutiara menelpon Totok. Begitu juga sebaliknya. Kalau setuju, jadilah ia dan teman prianya itu pergi ke tempat yang sudah direncanakan hanya untuk bersenang-senang saja.
“Antara umur saya dan dia terpaut jauh, sekitar 10 tahun. Pria itu dewasa sekali dan selalu membimbing saya jika menghadapi kesusahan,” katanya.
Lain lagi cerita Dewi (nama samaran). Pengaruh dunia malam mem­buatnya berkelakuan seperti gaya Amrik atau america style. Malam ini pacar, besok tidak lagi. Teman-temannya sesama penikmat dunia malam juga berkelakuan yang sama. Kalau sudah pergi dugem (dunia gemerlap), ia pasti menyempatkan diri untuk berkenalan dengan sejumlah pria. Biasanya kalau ada satu pria yang disenangi, jadilah langsung check in di hotel.
Biasanya ia pergi bersama temannya ke tempat hiburan yang dise­diakan oleh pengelola hotel. Setelah itu, ada saja pria yang menghampiri. Berawala dari menawarkan minuman saja. Lalu berlan­jut dengan perkenalan dan kemudian kalau sudah merasa akrab bisa langsung pesan kamar.
“Tapi terkadang ada juga yang perlu pendekatan dengan saya. Kalau feeling saya dia itu orangnya baik, kemana diajak pasti mau,” katanya yang mengaku kos di kawasan Lubuk Buaya.
Menurutnya, pergaulan seperti itu di zaman sekarang sudah wajar. Jangan munafik, siapa yang tidak ingin kesenangan. Hanya saja baginya, asal jangan kebablasan tidak mengapa.Rio/Eriandi/SM Ridha


3 Tanggapan ke “Fenomenan Gemerlapnya Kota Padang (2)”


  1. 2 vin
    November 14, 2008 pukul 3:46 am

    nggak nyangka..!!

    yang kayak gthu ada juga ya dPadang..
    padahal saya mengira padang itu kota Islam lho..
    nggak kayak dJawa2 gthu!!

    memang si..
    kita nggak usah munafik
    umur2 16-20 adalah umur yang rentan
    mudah terbawa lingkungan

    sebenarnya si… tergantung ‘the point on’nya juga
    kalau bisa mengendalikan diri, kenapa harus kayak gthuan coBA!!

    ruGi tawuK…

    apalagi mereka termasuk orang yang terpelajar(mahasiswi ato siswi)
    padahal banyak yang mengatakan bahwa orang yang berpendidikan tidak akn melakukan sesuatu yang tidak brguna seperti yang diAtas

    mudah2an cepat dapat hidayah de…!!
    siPPP

  2. Desember 23, 2008 pukul 7:25 am

    Sedih ya klu kayak gitu anak mudanya, selain banyak resiko, hidup gituan tak nyaman di hati nurani.

    Ambo sarankan, siswi dan mahasiswi yang kuliah/sekolah ke kota/di kampung mesti jujur ke ortu dan selalu di cek ortu dan itu mesti, dan semua unsur (guru, dosen, pak kos, keluarga, rt-lurah, dan sanak kasodonyo) harus kerjasama untuk amr makruf nahi mungkar, terutama tuk pemko khususnya. Termasuk buya-buya kito mengapa diskotik yang ramai kok surau lengang, ini tantangan.

    Di sekolah perlu pelajaran budi pekerti, moral, dan budaya terutama budaya minangkabau yang islami.

    Oi upiak rambahlah paku ndak tarang jalan ka parak, O piak ubah laku ndak sayang urang ka awak.

    Doa ambo semoga Allah menunjuki kita semua ke jalan-Nya dan dilindungi-Nya dari segala maksiat.
    Trima kasih, maafkan Ambo kok ado nan tersinggung.


Tinggalkan Balasan




 

Juni 2007
S S R K J S M
    Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Bagian

Blog Stats

  • 81,016 hits

Informasi

Bagi anda yang ingin mengirim tulisan atau berita, layangkan ke eriandi_ganteng@yahoo.com

RSS Detik.com

  • Monyet 'Anggogodo' Menunggang Buaya
    Sehari sebelum SBY mengumumkan sikapnya atas rekomendasi Tim 8, dukungan pada KPK kian menguat, termasuk dari seniman. Pelukis Dimas Prasetyo (63) menggambarkan seekor monyet yang diberi nama Anggogodo tengah menunggangi seekor buaya.
  • APV Bermuatan Cat Terbalik di Tol Meruya
    Suzuki APV B 1790 NFA bermuatan cat terbalik setelah menghindari 2 orang pekerja sedang memperbaiki barrier di ruas Tol Kebon Jeruk arah Tangerang.
  • Aspirasi Berantas Korupsi Lewat Secarik Kertas
    Banyak cara yang bisa dilakukan oleh manusia untuk menyampaikan aspirasi mereka kepada si penguasa. Parlemen jalanan, aksi solidaritas, mogok makan, bahkan mungkin tindakan yang lebih anarkis lagi bisa dilakukan.
  • Lomba Makan Roti Buaya Untuk Dukung Rekomendasi Tim 8
    Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (Kompak) menggalang dukungan terhadap rekomendasi Tim 8 untuk membongkar mafia hukum dan kasus Bank Century. Mereka menggelar berbagai acara di Pintu I Ring Road Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.